Rabu, 21 Oktober 2009

Betina si panser tak kembali


3 hari setelah dikurung si panser dan betinanya saya lepas, sudah bertelur 2 dan harusnya mulai mengeram. Saya pikir udah kerasan di kandang barunya, ternyata sampai sore cuma si panser aja yang kembali.

wah, sedih juga sih.... tapi apa mau dikata, sesal kemudian tiada berguna, padahal betinanya addalah burung bagus yang mau saya ambil pranakanya. Mungkin dapat menambah pengalaman juga, kalau melepas burung baru sebaiknya kalo udah dikurung 1 minggu.
Rata Penuh

Minggu, 18 Oktober 2009

Si Panser, Merpati balap koleksiku.


video
Si panser, merpati setengah jadi yang baru saya beli, minggu malam kemarin bertelur. Kalau hari minggu bertelur maka akan bertelur untuk yang berikutnya, biasanya di hari selasa sore, senin istirahat dulu tidak bertelur. Lalu kita biarkan mengeram mulai hari rabu sampai minggu. Minggu sore baru kita buang lagi telurnya dan hari seninya kita mandikan dan kita jemur baru kita lepaskan lagi. Pada hari kamisnya baru kita kurung didalam kandangnya bersama betinanya dan sore harinya sudah bisa kita train lagi

Rata Penuh
video
Berbicara soal membuang telur, saya sangat kasian sekali jika telur yang sudah berumur satu minggu itu dibuang. Karena didalamnya udah ada bibitnya yang tinggal satu minggu lagi menetas. Oleh karena itu telurnya saya rendam di air dulu sehingga waktu dierami udah tidak mungkin mungkin ada bibitnya lagi.

Jumat, 16 Oktober 2009

Melatih Merpati Balap


Jam 3 sampai jam 5 sore, mulai hari kamis sampai minggu biasanya kita nge-train burung merpati ini. Jadi kita atur jadwal betelurnya mulai hari minggu sore sehingga hari minggu depanya sudah dibuang telurnya dan kamisnya udah bisa mulai di train lagi.

Omong-omong soal buang telur merpati ini, saya sebenarnya kasian juga. Mengingat telur yang dibuang itu sudah dierami 4-5 hari, jadi secara biologis telur itu udah ada bibit yang berkembang didalamnya. Seolah-olah kita membuang nyawa.

Karena itu saya buat penelitian baru tentang pembuangan telur ini. Supaya telur ini sudah rusak dari awal sebelum di erami. Telur saya bor dengan menggunakan jarum kecil dan saya masukan kedalam air. Jadi telur ini sudah rusak sebelum dierami, sehingga pada saat kita membuang telurnya nanti memang kita membuang telur yang rusak, bukan membuang nyawa. Semoga Bermanfaat.

Merpati baruku lepas

Merpati balap yang saya beli kemarin, tadi pagi lepas. Wah... waktu berangkat kerja pikiran saya sungguh nggak tenang. Gimana bisa tenang, lha wong nilai merpati tersebut bisa 500-750 ribu.

Tetapi si betina memang nggak bisa terbang terlalu jauh karena sayapnya sebelah saya ikat, yang saya sangat khawatirkan adalah yang jantanya, si Laser, demikian saya kasih namanya, tidak saya ikat sama sekali sayapnya.

Saya berharap merpati ini akan tetap kembali ke kandangnya walaupun baru semalam menem[pati kandang barunya. Harapan saya ini timbul karena telurnya masih ada di kandangnya. Dan hari ini adalah hari kedua mengeram.

Alhamdulillah, sepulang saya kerja tadi siang, sebelum sholat jumat saya lihat di kandang ternyata kedua merpati baru saya ini kembali. Memang tadi pagi saya pikir kalau memang merpati ini bukan rejeki saya ya... pasti deh kabur.

Kamis, 15 Oktober 2009

Membuat Merpati balap giring/ngarat

video

Tadi siang saya membeli lagi sepasang merpati balap yang sudah bertelur 2 dan besok sudah mulai mengeram. Jadi minggu depan sudah mulai lagi bisa di train. Saya lebih suka membeli merpati yang sudah setengah jadi daripada harus menernakan sendiri. Karena kalau kita ternak sendiri terlalu lama piyikanya untuk mulai bisa di train, dan kadang hasilnya pun juga tidak sesuai dengan harapan kita.

Lebih baik membeli saja yang sudah setengah jadi walaupun belum pernah juara tapi kita sudah tahu sedikit kualitas terbangnya dan kita tinggal melatihnya lagi dengan lebih keras. Dalam membeli merpati balap setengah jadi ini sebaiknya yang masih berumur sekitar satu tahun an, karena kalau terlalu muda masih cukup lama untuk dapat kita turunkan dalam lomba.

Saya akan selalu mem-postingkan perkembangan merpati balap saya ini setiap hari. Mudah-mudahan kelak akan dapat juga menjadi jawara walaupun dalam kelas lokalan. Hari ini adalah mulai mengeram jadi mulai nge train lagi baru minggu depan.

Mungkin banyak dari pembaca yang senang merpati tapi belum begitu tahu bagaimana membuat merpati dengan kualitas giring atau ngarat yang baik. Ok, akan saya jelaskan caranya, misalkan kita awali saja dari mulai bertelur seperti merpati baru saya ini:
  1. Hari pertama (minggu) mulai bertelur misalkan Minggu sore.
  2. Hari ke dua (senin) merpati dilepas semua, sore nya tidak bertelur.
  3. Hari keti ga (selasa) pagi tetap dilepas dan sore harinya betina akan bertelur lagi.
  4. Hari ke empat(rabu) Tetap massih dilepas semua, hari pertama mengeram
  5. Hari Ke lima (kamis) Biarkan saja tetap mengerami telurnya dan dilepaskan semua.
  6. Hari ke enam (jumat) Biarkan saja tetap mengerami telurnya dan dilepaskan semua.
  7. Hari ke tujuh (sabtu) Biarkan saja tetap mengerami telurnya dan dilepaskan semua.
  8. Hari ke delapan (minggu) Biarkan saja pagi mengerami telur nya dan sore hari telurnya dibuang.
  9. Hari ke sembilan (Senin) pagi hari keduanya dimandikan dan dilepaskan semua.
  10. Hari kesepuluh (selasa) Biarkan tetap terlepas semua dan sorenya yang jantan diberi jamu.
  11. Hari ke sebelas (Rabu) tetap biarkan lepas semua bersama betinanya.
  12. Hari ke dua belas (kamis) mulai pagi sampai jam 3 sore masukan keduanya dalam gupon gelapnya. Sore hari sudah bisa mulai ditrain hari pertama.
  13. Hari ke tiga belas (Jumat) mulai pagi sampai jam 3 sore masukan keduanya dalam gupon gelapnya. Sore hari sudah bisa mulai ditrain hari kedua.
  14. Hari ke empat belas (sabtu) mulai pagi sampai jam 3 sore masukan keduanya dalam gupon gelapnya. Sore hari sudah bisa mulai ditrain hari ke tiga.
  15. Hari ke lima belas (minggu) mulai pagi sampai jam 3 sore masukan keduanya dalam gupon gelapnya. Sore hari sudah bisa mulai ditrain hari ke empat. Pada hari minggu malam biasanya betina sudah bertelur lagi. Selanjutnya perawatanya berulang lagi seperti mulai hari pertama atau langkah pertama di atas.

Rabu, 14 Oktober 2009

Perbedaan Merpati Balap dan Merpati Tinggi

Merpati balap lain dengan merpati tinggi, jika merpati balap jarak tempuhnya adalah 200 meter, 500 meter dan 1200 meter, sedangkan merpati tinggi jarak tempuh untuk lombanya bisa 5 km hingga 10 km.

Untuk merpati balap yang bagus jika sudah melihat betinanya akan langsung turun dan terbang rendah sekitar setengah atau 1 meter dari tanah, sedangkan merpati tinggi setelah di lepas akan terbang tinggi dan berputar-putar dulu untuk mencari betinanya. Dan jika sudah melihat betina nya maka si jantan ini akan lagsung menjatuhkan dirinya dengan kecepatan tinggi menuju ke betinanya. Dan disinalah kemampuan lebih dari joki sangat diperlukan, selain juga karakter dari merpati itu sendiri. Jika jatuhnya meleset tak jarang saking kerasnya merpati ini akan terjatuh dan mati.

Untuk daerah malang, pasuruan, probolinggo dan jember jenis perlombaan yang sering diadakan adalah merpati balap Sprint atau jarak dekat ini. Hampir tidak pernah ada lomba balap merpati tinggi di daerah ini. Jenis merpati tinggi ini lebih membudaya di daerah jawa tengah, jogja dan jawa barat.


Selasa, 13 Oktober 2009

Permainan giringan, adu gengsi penghobi merpati

Jogja memang terkenal dengan komunitas hobi yang banyak sekali. Tak terkecuali dengan hobi burung merpati. Meski ada merpati yang dipelihara sebagai hewan hiasan, tetapi kebanyakan merpati di Jogjakarta diperlihara sebagai merpati aduan.

Adu merpati biasanya memang secara umum dibedakan menjadi dua: balap (dasaran) dan tinggian yang di tempat lain bisa saja disebut dengan istilah lain seperti dhuwuran (Surabaya) dan sebagainya.
Salah satu penghobi merpati aduan di Jogja adalah Margono, warga Tegalgendu, Kotagede, Jogja. Bersama Andi dan kawan-kawannya, dia biasanya melatih merpati di kawasan Muja-Muju, Kecamatan Umbulharjo, Jogjakarta. Kelompok Gono (demikian Margono biasa dipanggil) dan Andi memang tak bernama. Mereka hanya bermain atas dasar hobi yang sama, burung merpati. Di antara mereka, adu merpati memang sekadar permainan “adu gengsi” sesama teman.
kelompok pecinta merpati giringan sedang berkumpul di rumah Andi (duduk)
kelompok pecinta merpati giringan sedang berkumpul di rumah Andi (duduk)
Gono, yang mengajak Jogjanews ke rumah Andi untuk menyaksikan cara melatih burung merpati, mengaku sudah sejak kecil memelihara merpati. “Saya sering ke rumah Andi untuk melihat merpati yang saya titipkan sekalian melatih agar bisa diajak templek,” kata Gono, Sabtu (8/8) lalu.
Di rumah Andi, Jogjanews diajak ke lantai. Di tempat ini, ada tempat memelihara burung merpati cukup besar yang berisi 50 lebih burung merpati baik yang masih anakan (Jawa: piyik), enoman, giringan dan petelor atau indukan. Saat itu sang pemilik rumah sedang menebar jagung sebagai makanan utama merpati-merpatinya. Tak beberapa lama kemudian beberapa teman Andi pun datang untuk bersama-sama melatih merpati.
Dilihat dari pola pelatihan dan juga penuturan mereka, kelompok Andi dan kawan-kawan getol melatih merpati aduan untuk adu tinggian.
Adu merpati tinggian ini dibedakan menjadi beberapa jenis seperti tomprangan, kentong dan kolong, dengan nama yang bisa jadi berbeda untuk satu daerah dengan daerah lainnya.
Melatih merpati tinggian, mempunyai tujuan sesuai dengan kriteria yang diperlukan merpati adu tinggian, antara lain:
  • 1. Burung mau dan pasti tebang tinggi sekali dan sampai di rumah tetap tinggi.
  • 2. Mempunyai track cepat (burung terbang dengan kecepatan yang tinggi). Merpati yang mampu terbang dengan ketinggian yang maksimal, biasanya kecepatan burung kurang, dan track burung saat pulang kerumah agak lambat. Oleh karena itu, merpati perlu dilatih
  • agar mempunyai track cepat.
  • 3. Mempunyai mata yang tajam, sehingga saat si jongki mulai mengepakkan pasangannya, merpati yang dilatih mampu mengenali pasanggannya dengan baik.
  • 4. Burung lengket dengan pasangannya ( giring atau templek dengan keras).
  • 5. Burung memiliki keberanian menukik tanpa harus berputar putar atau istilahnya “sekali jadi”.
  • 6. Saat burung menukik gerakan burung tenang (tidak goyang), tembak lurus seperti panah. Burung yang menukik dengan tenang akan memiliki kecepatan yang maksimal dengan “setut” yang sangat kencang.
  • 7. Ketika sampai di lapak burung turun dengan pas, tidak keluar dari lapaknya dan turun di pasangannya.
  • 8. Ketika turun burung juga dilatih tidak terlalu keras karena akan menyebabkan cacat saat menghantam lapak.
  • 9. Memiliki jiwa yang “methilan” (atau mampu meninggalkan lawan saat turun dari awan). Saat ini sulit sekali burung yang mampu terbang dengan ketinggian maksimal, kecepatan tinggi dan punya jiwa “methilan”.
  • 10. Burung memiliki stamina yang bagus.
Menurut Andi, untuk melatih merpati seperti itu dimulai dengan berlatih templek, yakni melatih merpati jantan yang sudah menginjak usia giringan (6-8 bulan). Sebelum usia tersebut, merpati harus sering dilatih terbang agar tulang-tulang sayap kuat untuk terbang tinggi dan lama dan membentuk gaya terbang menurun yang diinginkan.
Faktor pelatihan
Seperti hari-hari biasanya. Kelompok pecinta merpati ini melatih momongan mereka dari pukul 16.00 hingga hampir waktu Maghrib. Saat itu, latihan templek untuk burung merpati muda dilakukan Bayu, adik Andi.
Bayu melepas beberapa burung merpati jantan agar terbang setinggi mungkin di angkasa. Karena sudah mengetahui kemampuan berapa jauh dan berapa lama burung-burung yang dilepas itu akan terbang, Bayu tinggal menunggu waktu saja hingga burung-burung tersebut terlihat di angkasa. Setelah muncul, Bayu segera mengepak-ngepakkan merpati betina dengan kedua tangan di atas kepala sebagai “undangan” bagi burung-burung merpati jantan pulang kandang.
Begitu “undangan” merpati betina terlihat, merpati jantan di angkasa segera menukik ke arah merpati betina yang sedang dikepak-kepakkan sayapnya. Begitu cepatnya merpati-merpati jantan melesat turun, suara gesekan sayap dan angin terdengar mendesing. Merpati jantan pun pulang kandang.
“Yang paling dicari pemain merpati adalah cara terbang menurun dari burung tersebut yang bisa membentuk sudut seperti jarum jam pas di angka 12 atau 90 derajat. Itu yang paling bagus,” kata Gono menjelaskan.
Merpati betina dipakai untuk mengajak pulang merpati jantan
Merpati betina dipakai untuk “mengajak” pulang merpati jantan
Menurut Gono, untuk bisa terbang menurun seperti posisi jarum jam 12 diperlukan burung giringan yang kuat terbang. Biasanya burung-burung merpati giringan yang sudah mahir terbang menurun umurnya sekitar 6-8 bulan. Namun kadang bisa terjadi kemahiran terbang menurun burung merpati giringan tidak tergantung usia, tetapi juga pelatihan.
”Kuncinya harus sering melatih burung merpati untuk bisa terbang sehingga burung tersebut bisa cepat mahir terbang menurun dengan cara yang diinginkan si pemain,” kata Gono seraya menerangkan burung merpati yang sudah bisa diajak main giringan biasanya burung merpati yang sayapnya sudah “ngrampas” atau sudah tidak sebanyak ketika belum menjadi burung giringan.
“Kalau burung merpati yang belum giringan, sayapnya kan banyak. Kalau sering dilatih terbang, biasanya sayap akan lepas satu-satu, tinggal 4-5 sayap saja yang tertinggal. Tapi itulah yang membuat burung itu bisa diajak main giringan karena burung-burung tersebut bisa terbang turun model jam 12,” katanya.
Sebagai sebuah obyek hobi, merpati yang “sudah jadi” memang bisa berharga mahal, sampai jutaan rupiah. Untuk burung “bakalan”, jika memang berkarakter bagus harganya juga sudah mahal. “ Beberapa hari yang lalu, Andi membeli merpati seharga Rp.750.000,00,” kata Gono.
(The Real Jogja/joe)
Merpati-merpati jantan calon giringan
Merpati-merpati jantan calon giringan
Sumber:
http://jogjanews.com/2009/08/09/permainan-giringan-burung-merpati-adu-gensi-hobies-burung-merpati/

Kamis, 08 Oktober 2009

Balapan Ala Burung Merpati

SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT
Sriwijaya Post - Minggu, 31 Mei 2009 20:55 WIB
DUA hobiis burung merpati balap mengikuti lomba burung merpati balap di Lapangan Parkir Stadion Patra Jaya, Plaju, Palembang, Sumsel, Minggu (31/5). Jarak tempuh sprint merpati balap ini sepanjang 250 meter. Lomba ini memperebutkan tropi dari komunitas Pencinta Burung Merpati Balap Patra Jaya Plaju. Setiap peserta bisa menampilkan 20 pasang burung merpati.
Syahrul Hidayat


Sumber:
http://www.sripoku.com/view/12748/BERITA-FOTO-Balapan-Ala-Burung-Merpati-

Selasa, 06 Oktober 2009

Ketika Kesetiaan Berkalang Maut

PERKARA "lari", Komar bisa diibaratkan dengan anak panah yang melesat dari busur. Staminanya juga panjang. Kalau hanya sekadar seratusan kilometer, ia mampu nonstop. Buktinya, perjalanan dari Tegal, Jawa Tengah, sampai Bandung, Jawa Barat, sekitar 165 kilometer potong kompas, hanya ditempuhnya dalam dua jam 25 menit.

Dengan catatan waktu inilah Komar menaklukkan 269 pesaingnya, Ahad dua pekan lalu. Sebagai kampiun, komar berhak memboyong trofi kejuaraan tingkat Jawa Barat. Ia sekaligus meraih tiket untuk maju ke kejuaraan nasional memperebutkan Piala Presiden, September mendatang.

Toh, nama Komar tidak tercantum dalam daftar atlet di Kominte Olahraga Nasional Indonesia, atau Persatuan Atletik Seluruh Indonesia. Ia juga tak tercatat di Pelatnas manapun jua. Sebab, apalah Komar: ia tak lebih dari seekor merpati pos! Namanya pun diambil dari nama depan pemiliknya: Komar Cahyana.

Menurut tuturan, lomba merpati pos di Indonesia dirintis oleh para soldadu Belanda di zaman kolonial. Rupanya, tradisi itu hidup terus, sampai kini. Seri pertandingannya berkesinambungan sepanjang tahun, mulai tingkat daerah hingga nasional. Penggemarnya datang dari Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, Purworejo, dan Surabaya.

Para penggemar kemudian berserikat di dalam Perhimpunan Olahraga Merpati Pos Indonesia (POMP). Untuk kejuaraan tingkat Jawa Barat kali ini, sedikitnya 15 pemilik merpati --dari 20 anggota klub Alap Alap Bandung-- mengikutsertakan belasan burung andalannya. Total 270 burung diberangkatkan dari Bandung menuju Tegal, menumpang sebuah mobil bak terbuka, dua hari sebelum lomba.

Para burung menempati beberapa kandang kawat berukuran 100x60 sentimeter, dengan tinggi satu meter. Setiap kurungan ditempati 25 hingga 30 ekor. Setelah semua kontestan masuk, pintu kandang dikunci dan disegel. Sampai di Tegal, segel diperiksa pengawas lomba. "Kalau segel rusak, seluruh burung di dalam kandang itu tak bisa ikut lomba," kata Soedjad Soekardi, Ketua POMP Jawa Barat.

Soalnya, kalau segel rusak, ada kemungkinan merpati di dalamnya sudah "diutak-atik". Terutama pada karet gelang yang melilit di kaki masing-masing burung. Padahal, karet gelang itu ibarat kunci. Masing-masing burung punya nomor karet "rahasia", yang baru diketahui oleh pemilik burung ketika lomba berakhir. Pada saat seekor burung menyentuh garis finish, karet itu segera dicopot.

Momen inilah yang dijadikan pengunci gerak jarum jam. Demi menghindari kecurangan, seluruh jam khusus lomba merpati ini sebelumnya ditera dengan seksama. Dengan demikian, waktu tempuh masing-masing burung akan tercatat secara akurat. Uniknya, meskipun semua burung diberangkatkan dari tempat yang sama, finish-nya dipatok di masing-masing kandang.

Lomba dimulai pukul 07.00, setelah para kontestan rehat di Tegal sehari semalam. Sebelum panitia pelepas lomba sampai ke Bandung, para burung itu sudah nangkring di kandangnya masing-masing. Komar menclok di kandangnya di Jalan Vihara, Bandung, pada pukul 09.25. Dengan perkiraan jarak lurus Tegal-Bandung 165 kilometer, rata-rata kecepatan terbang Komar mencapai 70 kilometer per jam.

Toh, jarak Tegal-Bandung, kata Soedjad, belum seberapa. Merpati-merpati pos asal Bandung ini pernah diterbangkan dari Situbondo, Jawa Timur, dan sampai di tempat asal setelah 12 jam terbang. Lebih "gila" trayek yang bakal ditempuh pada kejuaraan nasional, September nanti. "Garis start-nya dari Lombok," kata pensiunan Departemen Keuangan itu.

Tak semua merpati mampu mengepakkan sayapnya selama dan sejauh itu. Kemampuan ini hanya monopoli merpati jenis pos, yakni burung yang punya trah "bule". Di Indonesia, kata Soedjad, merpati ini kebanyakan hasil kawin silang antara ras Yansson dan Delbar dari Belgia dan ras unggulan lainnya. Komar, misalnya, adalah keturunan hasil kawin silang ini.

Komar Cahyana memulai hobi ini pada awal 1980-an. Kini ia memiliki 100 merpati pos --semuanya masuk kelas unggulan. Tapi, hanya 50 ekor yang biasa diterbangkan. Sepuluh ekor masih dalam tahap belajar terbang. Sisanya yang 40 ekor (20 pasang) oleh Komar dibiarkan dalam kandang, dengan tugas bertelur, menghasilkan bibit unggulan lain.

Seekor merpati betina biasanya bertelur dua butir. Telur itu akan dierami bergantian oleh jantan dan betina selama 17 hari, sampai menetas. Anak burung biasanya sudah bisa terbang pada usia 40 hari, tentu dalam jarak dekat. Barulah pada usia tujuh bulan ia mendapat latihan serius. "Kami mulai melepasnya pada jarak puluhan kilometer," kata Komar.

Menginjak usia dua tahun, "Ia sudah sanggup terbang ratusan, bahkan seribu, kilometer lebih," kata Komar. Untuk memelihara semua merpatinya, Komar merogoh keceknya Rp 750 ribu sebulan. Uang itu untuk membeli pakan berupa jagung, kacang tanah, kacang hijau, dan jenis kacang lainnya. Masih ada makanan pelengkap lain, mulai vitamin hingga doping khusus burung.

"Semua vitamin itu mesti diimpor," kata Komar yang Cahyana. Pengeluaran sebesar ini tak terasa kalau ada bibit unggul yang terjual. Seekor anak turunan Komar yang burung, misalnya, bisa laku Rp 500 ribu. Harga ini bisa melambung hingga Rp 3 juta kalau si merpati telah benar-benar "jadi". Namun, harga jual merpati bertrah "bule" ini ternyata belum seberapa.

Hingga kini, rekor penjualan masih dipegang merpati jenis lokal, yakni "Tiger", milik Eeng, seharga Rp 200 juta. Pembelinya adalah penggemar "gila" merpati balap dari Probolinggo, Jawa Timur, Roy Akas namanya. "Tiger memang layak dihargakan segitu," kata Ache Sumantri, Ketua Perhimpunan Merpati Balap Seluruh Indonesia cabang Jawa Barat.

Di blantika merpati balap nasional, prestasi Tiger mememang mengkilap. Sejak dibeli Eeng seharga Rp 25 juta, pada 1998, Tiger mencetak hattrick, menjadi juara tingkat nasional tiga kali berturut-turut. Kepakan sayapnya berhasil menenggelamkan "legenda" sebelumnya, Koko, yang bertahun-tahun selalu merajai lomba.

Dibandingkan merpati pos, jumlah penggemar merpati balap jauh lebih banyak. Di Jawa Barat saja tercatat 70 anggota, belum termasuk penggemar non-organisasi. Ukuran burung balap sedikit lebih kecil dibandingkan merpati trah "bule". Tata cara lombanya pun berbeda. Kalau jarak lomba merpati pos ratusan kilometer dan finish-nya di kandang, merpati balap cukup dilepas di dalam kota, dengan garis akhir di pundak pasangannya.

Lomba ini memanfaatkan sifat merpati yang selalu setia kepada pasangan. Jenis balapan ini pun masih dibagi ke dalam dua katagori, yakni balapan datar dan balapan atas. Pada katagori pertama, gerakan pembalap adalah datar menyusuri permukaan tanah. Mereka akan secepat kilat mengerem gerakannya, dan langsung menclok di punggung betinanya.

Sedangkan pada balapan atas, setiap peserta lomba tidak sekadar adu cepat mencapai "sasaran". Setelah menempuh penerbangan tertentu, merpati harus mampu masuk area ngolong, yakni wilayah setinggi 12 meter di udara dengan luas 8x8 meter. Dari ketinggian itu, merpati akan menjatuhkan diri setelah betinanya di perlihatkan.

Saking cepatnya gerakan "terjun bebas" ini, terkadang ada merpati yang telat mengembangkan sayapnya. Akibatnya bisa fatal, merpati terhempas ke tanah. Tak sedikit di antaranya cedera, bahkan mati. Kesetiaan pun tak jarang mesti berkalang maut.

Hidayat Gunadi dan Sulhan Syafi'i (Bandung)
[Gatra Nomor 33 Beredar Senin 2 Juli 2001]


Sumber:
URL:
http://www.gatra.com/2001-07-06/versi_cetak.php?id=7637
 
Merpati Balap Jember Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template