Rabu, 30 Juni 2010

Merpati Kentongan

Merpati kentong adalah sebutan merpati lokal yang sering dijadikan ajang aduan. Aduan merpati lokal ini juga mempunyai peraturan tersendiri. Tidak lagi diletakkan di satu tempat yang dijadikan finis, melainkan tetap menggunakan kandang masing-¬masing sebagai finis dengan pelepasan pada satu tempat yang ditentukan. Jarak pelepasan biasanya lebih dekat dibanding dengan merpati pos, yaitu hanya mencapai puluhan kilometer.

Istilah merpati kentong ini diambil dari kebiasaan saat diadu. Masing-masing lawan menempatkan satu orang pengawas di kandang masing-masing sebagai finis dengan menggunakan alat kentongan sebagai tanda bila merpati sudah sampai di finis. Ada jugksebagai tanda mencapai finis digunakan bendera khusus yang dikenal dengan istilah kebut. Model aduan semacam ini banyak dilakukan di daerah Jawa Timur, khususnya daerah Surabaya dan sekitarnya.

Pada aduan merpati kentong biasanya hanya dua merpati yang diadu kecepatannya dan lokasi lawan relatif berdekatan sehingga antara kandang dapat memantau kedatangan masing-masing merpati baik dari suara tanda kentongan atau melihat langsung. Rentuk lomba merpati semacam kentong boleh dibilang bersifat ilegal dan masih dihantui penggerebekan pihak kepolisian. Mengingat aduan merpati kentong hampir tidak bisa dipisahkan dengan bentuk perjudian.

Aduan merpati semacam ini juga tidak bisa dijadikan atraksi wisata karena biasanya tidak bisa dipindahkan ke tempat yang diinginkan pada satu tempat untuk lebih mudah ditonton. Jika terpaksa harus menggunakan kandang yang sama pada satu tempat yang ditentukan, membutuhkan waktu yang cukup lama. Misalnya, untuk membiasakan tinggal serta harus melakukan latihan terbang kembali ke kandang yang dimulai dari awal.

Jenis merpati lokal ini memang hanya dilombakan pada jarak puluhan kilometer. Namun, perlombaan ini sangat mengasyikkan dan telah menjadi tontonan gratis bagi masyarakat. Merpati-¬merpati lokal mempunyai kebiasaan terbang sangat tinggi hingga tidak kelihatan. Begitu mencapai ketinggian di atas kandangnya langsung terbang menukik dengan kecepatan penuh. Bahkan, sering ditemukan merpati jenis ini mati saat berlomba akibat terlalu kerasnya membentur atap kandang atau kawat yang melintang disekitar kandang.

Selasa, 29 Juni 2010

Merpati Pos


Sesuai namanya semula merpati ini dipelihara untuk kepentin¬gan mengirim surat. Tentu saja pengiriman surat yang dilakukan merpati jenis ini berbeda dengan petugas kantor pos. Jika petugas mengirim ke alamat yang dituju (beberapa alamat), merpati hanya bisa membawa surat atau pesan ke satu alamat. Alamat tersebut tak lain adalah rumah pemiliknya, di mana merpati itu dipelihara. Kebanyakan merpati pos dimanfaatkan saat terjadi perang atau bepergian sehingga pihak keluarga yang ditinggalkan dapat menge¬tahui kebutuhan, kondisi, atau posisi pengirim.

Dapat dikatakan, yang disebut merpati pos yang pertama adalah carrier pigeon berasal dari Timur Tengah yang banyak dikembangkan di Inggris. Muncul kemudian berbagai jenis mer¬pati pos hasil silangan dari carrier pigeon dengan jenis merpati lain sehingga kekurangan sifat carrier pigeon yang hanya mampu menempuh jarak 200 km, cepat lelah, dan terbang rendah bisa diatasi. Merpati yang digunakan untuk memperbaiki di antara¬nya dragoon, cumulet, frill, tumbler, serta jenis lain yang diakui keunggulannya.

Dari hasil kawin silang akhirnya di Belgia muncul jenis mod¬ern racing homer yang lebih populer disebut belgian homer. Merpati pos yang kini berkembang di seluruh dunia diakui keturu¬nan belgian homer yang menjadi penerbang tangguh dan mampu menempuh jarak jauh dengan cepat.

Meski awalnya merpati pos digunakan sebagai pengirim berita, kini hampir di seluruh dunia berubah fungsinya, yaitu digunakan sebagai merpati pacuan. Bentuk pacuan merpati pos mempunyai aturan tersendiri berbeda dengan jenis merpati pacuan lainnya.

Merpati pos yang akan diadu ditempatkan di satu kandang sejak masih anakan (baru saja bisa makan sendiri), dengan menda¬pat perawatan dan latihan khusus. Hal ini dilakukan karena sifat merpati pos yang mempunyai naluri pulang kandang sangat besar. Dengan demikian, bila sudah dewasa akan sulit pindah ke rumah yang baru atau akan kembali ke kandangnya semula, meskipun sudah dipelihara beberapa waktu lamanya.

Lomba merpati pos diadakan dengan tempat start dan finis yang sama pada jarak tertentu (hingga mencapai ribuan kilome¬ter). Tentu saja merpati pos yang sampai pada kandang (finis) paling cepat keluar sebagai juara. Penggemar yang sering mengadakan aduan merpati pos kebanyakan terhimpun dalam wadah POMSI (Persatuan Olahraga Merpati Pos Seluruh Indone¬sia).

Senin, 28 Juni 2010

Merpati Hias

Merpati hias banyak dipelihara karena keindahan bulu dan penampilannya. Akibatnya memacu penggemar untuk mengawinsilangkan antara jenis yang disukai agar mendapat hasil silangan yang unik.

Fantail (merpati kipas) cukup populer di Indonesia dan sudah banyak dikembangbiakkan. Keindahan dan keunikan merpati asal Persia ini adalah ekornya yang menyerupai kipas serta bulunya yang tebal hingga menutup kedua kakinya. Kebanyakan penggemar merpati memelihara fantail yang berwarna putih mulus, meskipun juga ada yang berwarna hitam, abu-abu, coklat, dan sebagainya.

Jenis lain yang tergolong merpati hias di antaranya, Jacobin, old dutch capuctine, blondinete oriental frill, satenette, trumpeter, bararian pouter, scandoron, cropper, nun, latiore, dan frillback.

Minggu, 27 Juni 2010

Cara memegang merpati balap

Memegang merpati betina saat menjoki tidak boleh semba¬rangan. Usahakan merpati betina bisa mengibaskan sayapnya dengan bebas saat diayunkan. Merpati betina harus tepat dipegang di bagian tengah dan bulu-bulu terbangnya jangan sampai terpegang. Begitu pula posisi kaki harus diupayakan lurus.

Setiap menjoki tentunya joki tidak hanya memegang merpati betina, tetapi juga memegang merpati balapnya. Merpati balap tersebut harus dipegang secara hati-hati. Jangan sampai terlalu erat atau renggang sehingga merpati berontak dan membuat bulu rusak, bahkan tercabut. Ini jelas akan berpengaruh terhadap kecepatan terbangnya. Pada waktu memegang usahakan kondisi tangan tidak basah, bila perlu menggunakan sarung tangan.

Merpati Potong

Merpati potong dipelihara dengan tujuan dimanfaatkan daging¬nya untuk dikonsumsi. Merpati jenis ini juga dikenal dengan nama merpati pedaging. Perkembangan merpati potong dewasa ini sangat luar biasa. Banyak kalangan pengusaha menjadikan ajang bisnis yang sangat menjanjikan keuntungan.

Meskipun semua jenis merpati dapat dikonsumsi, tetapi mer¬pati hammer king lebih banyak dikembangkan di Indonesia. Jenis merpati ini pada umur satu bulan sudah bisa mencapai berat 600¬-700 g. Jenis lain yang juga dikenal sebagai merpati pedaging, yaitu mondaine (berasal dari Italia dan Prancis) dan carneau (berasal dari Belgia dan Prancis) yang, rata-rata bobotnya bisa mencapai 1 kg per ekor.

Sabtu, 26 Juni 2010

Sejarah merpati

Sebagian besar masyarakat di seluruh penjuru dunia mengenal merpati. Kondisi yang demikian ini dikarenakan perilaku merpati yang memang sangat bersahabat dengan manusia.

Sejak tahun 3000 SM di zaman dinasti kelima kerajaan Mesir Kuno merpati sudah dipelihara manusia. Namun, jasa merpati haru digunakan tahun 1000 SM pada masa Nabi Sulaiman sebagai pengirim berita.

Hingga kini populasi merpati yang hidup di lingkungan masya¬rakat jauh lebih besar dibanding yang hidup di alam bebas (liar). Berkat usaha manusia yang ingin mendapatkan merpati unggul sesuai yang diinginkan, saat ini terdapat lebih dari 200 jenis merpati hasil kawin silang yang merupakan perkembangan dari merpati liar Columba livia yang diketemukan di daerah Afrika, Eropa, dan Asia.

Sekian banyak ragam merpati dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk tubuh, warna bulu, dan paling mudah mengelompokkan merpati dilihat dari kegunaannya

Sabtu, 19 Juni 2010

Jual Merpati balap dari Jember


Untuk Melihat Foto Stok Saat Ini 
Silahkan langsung menghubungi Mas Andiek
akan dikirim melalui facebook, email atau whatsapp 
Andik Kreongan
085 335 104 575

  Melayani pengiriman ke seluruh kota di pulau jawa
Lengkapi koleksi anda dengan merpati balap dari Jember

Murah, Berkualitas dan Terpercaya

EYE SIGN Theory

Gambar 2

Gambar 3

Sebelum saya coba jelaskan mengenai eye sign, kiranya perlu saya sampaikan sekali lagi beberapa hal sebagai pengantar:

1. Eye sign adalah tanda-tanda pada mata yg digunakan untuk "memprediksi" kemampuan burung sebagai breeder, racer atau breeder dan racer sekaligus. Tanda-tanda tersebut berupa bentuk tertentu (shape), ukuran (width) dan warna (colour).
2. Kajian mengenai eye sign sejak lama bersifat kontroversial karena ada yang pro dan kontra. Oleh karena itu jika ada yang tidak sependapat saya juga maklum.
3. Diantara para penulis tentrang eye sign sendiri ada banyak perbedaan. Sebagai dasar bahasan, saya menggunakan buku yang ditulis oleh SWE. Bishop dan kemudian dikembangkan oleh Bob Fleming. Kalau kita baca bukunya Bryan Vickers, pendapatnya juga berbeda. Pendapatnya Vickers kita bahas berikutnya.
4. Tulisan Bishop ini berdasarkan kajian terhadap 53 ribu burung (bukan 2 ribu seperti saya tulis kemarin). Dari hasil penelitiannya terhadap 53 ribu burung dia mengelompokkan eye sign menjadi 10 seperti pada gambar no.3
5. Untuk bisa melihat eye sign mutlak diperlukan kaca pembesar dengan kekuatan 15-20 kali dan di bawah sinar mata hari (cukup sinar).
6. Burung masih piyik belum bisa dievaluasi eye sign-nya karena matanya masih bisa berubah. Evaluasi eye sign paling ideal kalau burung telah mencapai usia 18 bulan atau setidaknya telah rampas dimana matanya sudah tidak berubah.
7. Mungkin ada yang bertanya kenapa yang dilihat matanya??. Karena mata dianggap sebagai "cermin" dari jiwanya. Seperti juga manusia, kita bisa memperkirakan sifat seseorang dari matanya.
8. Eye sign hanyalah salah satu alat seleksi (bukan satu2nya) untuk memperkirakan kemampuan burung sebagai breeder dan racer. Jadi kalau mengevaluasi burung tetap harus dinilai organ yang lainnya.
9. Yang paling penting, saya bukan pakar eye sign, tapi sedang belajar eye sign. Jadi kalau salah mohon dimaklumi.

Kita sekarang lihat gambar pertama.

Di gambar tersebut ada garis diagonal yang disebut dengan "line of the beak" yang memisahkan pupil menjadi 2 bagian. Garis tersebut adalah garis imajiner yang ditarik dari pangkal paruh (cucuk) meliwati tengah-tengah pupil. Bagian atas pupil disebut dengan "the breeding section" atau wilayah breeding dan bagian bawah disebut dengan "the racing section" atau wilayah racing.
Apabila eye sign berada di daerah breeding section maka burung tersebut cocok sebagai breeder dan apabila berada di racing saction maka burung tersebut cocok sebagai racer dan tidak cocok sebagai breeder. Apabila eye sign berada di breeding saction dan racing saction makan burung tersebut cocok sebagai breeder dan racer (dual purpose).

Saya kira ini tidak terlalu sulit untuk dipahami.

Sekarang kita pindah ke gambar no 2 yang dibuat oleh Myron Kulik. Gambar ini menurut saya sebetulnya kurang tepat karena bentuk gergaji (serration/spiky) berada di luar circle of correlation. Menurut Bishop serration /spiky harusnya berada langsung setelah pupil. Jadi dia merupakan circle of correlation yg berbentuk gergaji (spiky).

1. Pupil... harus berbentuk bulat sempurna dan berwarna hitam pekat dan mengkilat. Kadang2 dijumpai pupil yang berwarna buram (milky) dan ini disebabkan oleh beberapa sebab misalnya gizi kurang baik, kena katarak atau burung sudah tua. Pupil yang bagus harus berkontraksi jika ada perubahan sinar masuk karena pupil akan memfilter jumlah sinar yg masuk ke retina. Kalau cahaya kuat, maka pupil akan mengecil agar sinar yang masuk ke retina tidak terlalu banyak dan sebaliknya.
Mengenai ukuran pupil ada yg berpendapat semakin kecil semakin baik. Tapi ada juga yang berpendapat yang penting adalah proporsional dengan besarnya mata secara keseluruhan. Pupil yang besar biasanya mengindikasikan kecerdasan yang rendah (bodoh).

2. Circle of Adaptation (C/A)..... yaitu suatu lapisan tipis yang terdapat setelah pupil. C/A bisa berwarna hitam atau hijau kehitaman atau coklat kehitaman. Semakin lebar C/A dan semakin nyata lingkarannya, maka semakin baik. Tidak semua burung mempunyai C/A dan burung yang demikian tidak cocok sebagai breeder maupun racer.
Karena tipisnya C/A maka harus hati2 sebelum kita memutuskan burung tersebut tidak mempunyai C/A. Untuk memastikan burung tersebut punya C/A atau tidak, bisa dilakukan dengan melihat pupil di bawah sinar mata hari dan sekali-sekali tutup mata burung agar pupil berkontraksi. Pada saat pupil mengecil, maka akan terlihat apakah burung tersebut mempunyai C/A atau tidak.

3. Circle of Correlation (C/C).....Perhatikan bagian ini baik-baik karena teori eye sign Bishop terfokus pada C/C. Lapisan ini berada setelah C/A dengan warna beraneka ragam seperti kuning, hijau, hitam, abu2, biru atau violet (ungu). Menurut Bob Fleming, C/C yg berwarna hijau sebetulnya adalah kuning kotor dan warna violet sebetulnya adalah warna biru. Warna hijau dan violet mempunyai kualitas yang sama hanya bedanya warna hijau dijumpai pada burung bermata kuning dan warna violet pada mata putih (pilo).
Dari segi ukuran, semakin besar/lebar C/C semakin baik. Selain itu C/C yang warnanya cerah juga semakin baik.
Tidak semua burung mempunyai C/C dan bentuk C/C burung yang satu dan yang lain juga berbeda. Burung yang tidak mempunya C/C atau C/C nya terlalu kecil tidak bagus sebagai breeder maupun sebagai racer.
Sekali lagi mohon perhatikan bentuk dan warna C/C burung anda, karena Bishop memfokuskan teorinya pada C/C ini.

4. Iris adalah lapisan setelah C/C dan di bagi dua yaitu inner iris dan outer iris (ada yg menyebut dengan main iris). Inner iris biasanya berwara lebih muda dari outer iris. Mohon juga perhatikan iris mata burung anda, karena kalau nanti kita membahas bukunya Bryan Vickers fokusnya ada pada iris, bukan pada C/C.

5. Lapisan terluar setelah iris adalah circle of health atau biasa disebut juga Vermeyen ring. Lapisan ini mengindikasikan kesehatan burung. Burung yg sehat akan mempunya vermeyen ring yg hitam mengkilap (tidak kusam).


Sebelum kita lanjutkan ke pembahasan gambar no.3, kita kembali sebentar ke gambar no 2.

1. Mengenai Health Circle (Vermeyen Ring), pada umumnya berwarna hitam, tapi mungkin bisa juga berwarna coklat tua seperti kata Mas Admin untuk kasus burung warna coklat. Yang penting Health Circle harus berwarna kuat (jelas). Menurut Rob Woolish bahkan ada burung yang tidak punya Health Circle. Mungkin bukannya tidak punya, tetapi bisa jadi warnanya pucat sehingga tidak jelas, apalagi kalau dilihat dengan mata telanjang. Menurut Rob Woolish juga, burung sebagai breeder harus punya Health of Circle yg kuat.
Health Circle merupakan pembuluh darah yang mensuplai darah ke bagian mata. Kalau Health Circle warnanya tidak kuat menunjukkan suplai darah ke bagian mata kurang yang bisa berarti peredaran darah burung secara keseluruhan kurang bagus. Sebabnya bisa beraneka ragam seperti kualitas gizi yg kurang baik (anemia), jantung yg kurang bagus untuk memompa darah atau kekurangan zat besi.
Seperti pada manusia, kalau mengalami tekanan darah rendah atau anemia, maka bagian luar bola mata akan terlihat pucat. Itu sebabnya dokter kalau memeriksa pasien suka membuka mata pasien untuk melihat sirkulasi darah.

2. Kalau saya menulis "racer" di sini adalah racer dalam merpati pos. Kalau kita bicara burung dengan kualifikasi racer, maka yang yang harus diperhatikan adalah "speed" (kecepatan) dan "distance" (jarak terbang/kemampuan jelajah).
Dalam teori eye sign ada yang disebut dengan "speed line" dan "distance line". Perhatikan gambar no 2 pada bagian Circle of Correlation". Garis2 kecil berwarna kebiruan yang membentuk lingkaran searah jarum jam disebut dengan "distance line". Burung yang mempunya distance line kuat (garis2nya terlihat nyata) mempunyai kemampuan terbang jarak jauh lebih baik daripada yang tidak mempunyai distance line atau yg distance line-nya lemah. Kalau konsep distance line kita terapkan dalam merpati balap atau merpati tinggian, mungkin bisa kita simpulkan burung yang punya distance line bagus akan mempunyai daya tahan untuk terbang lebih bagus.

Yang dimaksud dengan speed line pada gambar no.2 (pada bagian C/C juga) adalah garis2 yang lebih lembut berwarna kehijauan yang mengarah ke luar (diagonal), tapi bukan yang berbentuk seperti gergaji. Dalam gambar no 2, speed line kelihatan lebih tipis dari distance line. Burung yang mempunyai distance line kuat mempunyai speed lebih bagus.

3. Menurut Rob Woolish, apabila Circle of Adaptation berwarna metalic (hitam metalic atau hijau metalic), maka burung tersebut sangat bagus sebagai breeder.

4. Cluster..... Yang dimaksud dengan cluster adalah kumpulan titik berwarna emas (untuk mata warna kuning) atau silver (untuk mata warna putih) yang berada di pupil. Cluster dapat berbentuk bulat atau memanjang atau bentuk yg lain. Cluster bisa berpindah2 tempat atau tetap (tidak bergerak). Burung yang pupilnya mempunyai cluster mempunyai nilai yang sangat tinggi sebagai breeder, tapi konon sangat jarang burung yang punya cluster. Perlu hati2 membedakan cluster dengan spot putih pada burung yang habis sakit (seperti sakit snot). Kalau spot putih pada burung yg habis sakit akan hilang perlahan-lahan dan bentuknya bukan kumpulan titik2 tatapi hanya 1 lingkaran putih (single spot)

Itu sekedar penjelasan tambahan untuk gambar no.2 sebelum kita membahas gambar no.3.

Sekarang kita bahas satu persatu type eye sign (gambar no.3).

Sebelum kita membahas satu persatu perlu diperhatikan bagian mata yang lain, khususnya iris. Meskipun eye sign kurang bagus, namun apabila diimbang dengan iris yg bagus bisa dipertimbangkan sebagai racer. Iris yang bagus harus mempunyai warna yang kuat (tidak pucat) dan seperti membentuk bukit serta lambah kalau kita naik pesawat melewati pegunungan bukit barisan. Maksudnya, permukaan iris tidak rata (flat) tetapi bergelombang. Iris yang bagus juga mempunyai kepekatan warna yang rata.

No. 1. No Eye Sign (E/S)

Burung yang tidak mempunyai E/S artinya tidak memiliki circle of adaptation (C/A) dan circle of correlation C/C). Jadi setelah pupil langsung iris. sebelum kita menyimpulkan bahwa mata tersebut tidak memiliki E/S, perlu diperiksa dengan teliti di bawah sinar mata hari sehingga pupil berkontraksi. Apabila pada saat pupil mengecil tidak terlihat lapisan C/A dan C/C maka mata tersebut tidak memiliki eye sign. Apabila mata berwarna kuning, hati-hati juga jangan sampai rancu dengan gambar no 9 (The Yellow) karena C/C pada gambar no 9 juga berwarna kuning.

Menurut Bishop dia belum pernah menemukan burung tanpa E/S yang bagus sebagai racer maupun sebagai breeder.

No. 2 Lying Sight (L/S)

Disebut L/S karena letaknya berada di bagian bawah iris. Bentuk L/S adalah tipe E/S yang paling umum dijumpai.Dari segi ukuran lebar dan panjang serta kepekatan warna L/S akan berbeda-beda. Semakin lebar, semakin panjang dan warnanya semakin pekat berarti semakin baik. Apabila panjang L/S kurang dari 25% dari lingkar pupil dan tidak cukup lebar, maka dianggap kurang bernilai. Apalagi kalau warnanya tidak kuat
Karena posis L/S berada di wilayah racing (sesuai gambar no.1) maka type ini tidak cocok untuk breeder. Tetapi apabila luasnya lebih besar dari 25% lingkaran pupil dan punya iris yg bagus, type ini cocok untuk racing saja.

3. Standing Sight (S/S)

E/S type S/S pada prinsipnya sama persis dengan type no.2 (L/S). Perbedaanya posisi yang di atas dan kalau kita mengacu kepada gambar no.1 maka berada di area breeding. Jadi burung dengan E/S type ini cocok sebagai breeder. Type ini lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan type L/S.
Nilai S/S akan berkurang apabila hanya menutup kurang dari 25 % lingkar iris, tidak cukup tebal, dan warnanya tidak pekat (pecah2). Jadi harus cukup lebar dan berwarna pekat.

4. Half Circle (H/S)

E/S type H/S pada prinsipnya merupakan gabungan antara type no.2 dan no.3 dan sebaiknya menutup lingkar pupil sekitar 75%. Type ini jauh lebih bernilai dari type no. 2 dan no.3 karena dianggap sebagai loncatan ke type no. 7.
Burung dengan E/S seperti ini bisa untuk breeder dan juga racer. Namun untuk menentukan yg paling cocok harus dilihat posisinya apakah lebih banyak di area breeding atau area racing.

5. Full Circle (F/C).

Meskipun F/C menutup seluruh area pupil tanpa terputus, namun kelebarannya tidak mencukupi dibandingkan dengan type no.4. Dalam banyak kasus, meskipun E/S nya menutup seluruh pupil tapi sangat tipis, bahkan kadang-kadang hanya setebal guratan pinsil saja. Warnanya pun tidak terlalu kuat.
E/S type ini tanggung untuk breeder maupun untuk racer.

No. 6 The Serrated Sign

Serrated sign kadang2 disebut juga spiky eye sign.Dalam bahas Indonesia kemarin ada yang menggunakan istilah gergaji mungkin karena bentuknya seperti mata gergaji. Contoh serrated eye sign yg paling jelas adalah seperti gambar no.2.
Serrated sign pada intinya adalah C/C yang lapisan luarnya tidak rata tapi bergerigi dan terlihat seperti menembus ke inner iris. E/S type ini sangat jarang dan nilainya sangat tinggi dan biasanya hanya dijumpai pada burung yg sangat bagus. Serrated sign yang paling bagus adalah apabila melingkari seluruh pupil dan cukup lebar serta dengan warna yang solid.
Berdasarkan statistik yang dibuat oleh Bishop, burung dengan E/S seperti ini istimewa sebagai racer jarak jauh ataupun breeder. Bishop juga menyebut E/S type ini sebagai "Breeder's Eye". Disarankan kalau punya burung dengan E/S demikian langsung diistirahatkan untuk dijadikan breeder. Terlebih lagi kalau itu burung betina, nilainya sangat tinggi bahkan menurut Bishop nilainya lebih tinggi dari E/S no 10.

No.7. The Strong Circle

Strong Circle pada prinsipnya sama dengan Full Circle hanya garisnya lebih lebar dengan warna lebih solid (pekat) sehingga sangat jelas terlihat. Sementara type full circle garisnya tipis. Burung dengan E/S type ini sangat bagus untuk breeding. Jadi kalau punya burung dengan E/S seperti ini sebaiknya juga langsung masuk kandang ternak.

No.8 The Broken Sign (B/S)

B/S adalah kombinasi antara type no 2 (L/S) dan no.5 (F/S). Sebetulnya burung mempunyai type F/S tetapi pada bagian bawah menebal/melebar. Kalau tadi dikatakan type F/S burung serba "tanggung" untuk breeder maupun racer, maka dengan adanya bagian yang menebal di bagian bawah pupil, type ini cocok untuk racing jarak jauh (long distance), tetapi tidak cocok sebagai breeder karena posisi yg menebal berada di area racing.

9. The Yellow

Sepintas type ini sama dengan type no.2 (L/S), pada hal type ini sangat jarang dan nilainya sangat tinggi terutama sebagai racer jarak jauh. Menurut Bishop type ini perlu dicoba sebagai breeder.
Karena bentuknya sangat mirip dengan type no.2 maka harus hati-hati jangan sampai salah.
Kalau diperhatikan dengan cermat , The Yellow adalah betuk strong circle dengan C/C warna kuning sehingga agak sulit membedakan dengan iris yang berwarna kuning juga. Kalau diperhatikan baik-baik gambar no.9, maka akan terlihat perbedaan kepekatan antara warna kuning iris dan warna kuning C/C yang lebih muda.

10. The Green

The Green pada prinsipnya sama dengan The Strong Circle hanya bedanya kalau the strong circle berwarna hitam, yang ini berwarna hijau. Warna hijau disini bukan hijau terang seperti daun tetapi seperti hijau kotor (mungkin bisa disebut seperti kotoran kuda). Seperti halnya the strong circle, warnanya harus cukup lebar (semakin lebar semakin baik) dan pekat.
The Green hanya dijumpai pada burung bermata kuning atau mata jawa (bull eye). Apabila burung bermata putih (pilo), maka warnanya bukan hijau, tetapi violet. Warna violet lebih sulit dideteksi jika menggunakan mata telanjang, sementara warna hijau pada burung bermata kuning atau jawa akan lebih mudah dilihat meskipun tanpa loup.
Type the green dan violet nilainya sangat tinggi, baik sebagai breeder maupun sebagai racer. Tapi kalau punya burung dengan E/S demikian sebaiknya untuk bibit saja.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan mengenai teory eye sign menurut Bishop yang kemudian dikembangkan oleh Rob Woolish dan Bob Flaming. Teorinya Bishop ini dianggap sebagai kitab suci oleh para ahli eye sign. Namun karena bukunya ditulis lebih dari 50 th yg lalu, maka ada penemuan2 baru seperti the Cluster.

Meskipun kita mempelajari eye sign, namun jangan mengabaikan perabotan burung yg lainnya. Mata yang bagus saja tidak cukup untuk menjadikan burung hebat. Tetapi burung yang hebat harus mempunyai mata yang bagus. Pesan saya, jadikanlah pengetahuan eye sign ini hanya sebagai SALAH SATU alat untuk menyeleksi burung, baik sebagai breeder maupun racer.

Seperti saya sampaikan sebelumnya, salah satu kegunaan paling penting dari eye sign adalah untuk tujuan "pairing" dalam breeding. Bagaimana aplikasi eye sign dalam breeding (pairing) akan kita bahas selanjutnya.

Catatan: Kalau ada yg punya buku eye sign yg ditulis oleh pengarang Indonesia saya kira bagus juga kalau ditampilkan di sini untuk bahan perbandingan supaya pengetahuan kita lebih lengkap. Bagaimana Mas Admin atau teman yang lainnya???
Salam dan sampai jumpa pada bahasan berikutnya.

Eye Sign Theory by Brian Vickers

Sedikit saya jelaskan mengenai menilai eye sign menerut Brian Vickers.

Seperti sudah saya sampaina sebelumnya, Brian Vickers dalam menilai mata lebih fokus pada bagian iris, sementara Bishop pada circle of correlation. Mas Brian membuat skala 9,00-9,50 (bukan 90-95 seperti saya tulis sebelumnya).
Gambar di atas adalah dengan asumsi kita melihat mata burung dari depan (paru burung menghadap ke muka kita)
Breeding line adalah coret2an yang menyerupai rambut sedangkan racing line adalah polos (datar). Semakin tebal dan banyak garis-garis seperti rambut, maka semakin bagus sebagai breeder. Dan semakin tebal warna tanpa rambut hanya cocok sebagai racer.
Gambar 1 dan 2 kelihatan perbedaanya dimana gambar no.2 "rambut" lebih banyak dan warna racinngnya juga lebih tebal ("kereng").

Gambar2 yang lain untuk membedakan perbedaan iris saja. Intinya semakin tebal aris tapi kalau garis luarnya mulus (tidak bergelombang) semakin baik sebagai racer.Ttetapi kalau permukaan luar iris tebal dan bergelombang maka semakin baik sebagai breeder.

Saya kira itu penjelasan gambarnya. Kalau Bang Je kurang jelas bisa diskusi berdua sama Mas Admin sambil makan nasi uduk dan martabak manis he...he...he.

Saya kira tidak terlalu sulit untuk membedakan mana yg bagus sebagai breeder dan sebagai racer.
Kalau kurang jelas, bisa minta tolong Mas Admin untuk lebih menjelaskan.

Sekarang kita bandingkan foto no 1 dan 2

Foto no.2, garis2 seperti rambut jelas terlihat lebih banyak dibandingkan foto no.2 Warna iris foto no, 2 juga warna merahnya dengan ketebalan lebih merata, sementara pada foto. no.1 warna iris agak menipis pada iris bagian dalam (inner iris) yaitu yang berada dekat circle of correlation.

Kalau kita menggunakan teorinya Bishop, foto no. 2 juga lebih bagus meskipun sama2 jenis strong sign, tetapi speed line foto no. 2 lebih jelas terlihat. Yang lebih penting lagi, pada foto no.2 garis luar circle of correlation terlihat bergerigi (serrated).
Ketebalan warna circle of correlation pada foto no. 2 juga sedikit lebih tebal dari no.1 meskipun sama-sama mempunyai lying sight. (type no.2 menurut klasifikasi Bishop).

Pada foto no. 3, ketabalan warna iris sangat merata seperti pada foto no. 2, tapi garis2 breeding line meskipun cukup bagus, namun tidak sebagus foto no.2. Jadi klasifikasi foto no. 3 adalah sangat bagus sebagai racer (9.50), tetapi sebagai breeder hanya 9,35. Kualifikasi ini sudah sangat memenuhi syarat sebagai racer dan breeder.

Foto no.4 ini kasusnya sama dengan foto Mas Admin yg no.6, yaitu ciri khas mata hasil inbred yg terlalu kental (dalam penyilangan terlalu banyak inbreed atau line breed). Karena burung hasil inbreed tidak cocok sebagai racer, maka harus di-cross dengan burung yg tidak punya hubungan darah untuk mencetak racer.

--------------------------------------

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana hubungan eye sign dengan breeding.
Eye sign senebarnya adalah alat untuk menyeleksi mana burung yang cocok sebagai breeder dan sebagai racer. Kalau kita sudah mendapatkan burung yang memenuhi syarat sebagai breeder, maka tahap selanjutnya adalah menentukan penyilangan (pairing) yang diharapkan akan menghasilkan turunan yang terbaik.
Masalah ini perlu dibedakan dengan metode penyilangan (inbreeding, linebreeding, outcrossing, backcrossing, atau hibridanisasi).

Sebelum kita masuk kepada topik bahasan, mungkin ada baiknya disinggung sedikit konsep hereditas (penurunan sifat) dari indukan kepada anaknya. Bagi yang sudah memahami mekanisme penurunan sifat tentunya tau bahwa "secara teoritis" sifat/karakteristik anak merpati (atau mahluk hidup lainnya) 50% berasal dari bapaknya dan 50% dari ibunya. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah kenapa 50 % dari bapak dan 50 % dari ibunya??. Kita tahu bahwa mahluk hidup merupakan kumpulan dari sel-sel dan setiap satu sel mengandung sejumlah kromosom. Kromosom dalam sel selalu berpasang-pasangan (dua buah) dan khusus untuk merpati setiap sel terdiri dari 40 pasang atau 80 buah kromosom. Setiap kromosom mengandung sejumlah gen yang membentuk sifat/karakteristik mahluk hidup.

Pada saat terjadi pembuahan (kawin) satu kromosom dalam sel sperma dilepaskan oleh jantan dan 1 kromosom lagi dilepaskan oleh betinanya melalui sel telur. Pertemuan antara 1 kromosom dari jantan dan 1 kromosom dari betina yang membentuk embrio. Kita tidak tau kromosom mana yang dilepaskan oleh jantan dan mana yang berasal dari betina karena proses pembelahan kromosom berlangsung secara acak.
Akan tetapi karena sifat kromosom selalu berpasang-pasangan, maka secara teoritis probabilitasnya 50 % (1 dari 2 kemungkinan).

Untuk lebih jelasnya, bisa diibaratkan dengan mata uang koin yang mempunyai 2 sisi, katakanlah sisi A dan sisi B. Kalau uang koin itu kita lempar 10 kali, maka secara teoritis kemungkinan muncul sisi A adalah 5 kali dan sisi B juga 5 kali. Tetapi dalam kenyatannya dari 10 kali lempar bisa saja semuanya sisi A atau sisi B atau 4 kali sisi A dan 6 kali sisi B, dan seterusnya. Proses pembelahan kromosom juga mengikuti pola yang sama. Itu sebabnya piyik bisa mirip bapaknya, mirip ibunya atau campuran. Dan jangan lupa kromosom dari pejantan juga sebagian berasal dari bapaknya dan ibunya juga kakeknya. Oleh sebab itu, bisa saja seekor piyik mirip kakek/neneknya atau bahkan buyutnya. Ini yang menyebabkan piyikan dari indukan yang sama bisa berbeda satu sama lain, baik dari segi ciri2 fisiknya maupun karakternya.

Kalau kita perhatikan, banyak burung2 bagus tetapi anaknya jarang yang bagus (istilah Mas Admin boncos), tapi ada juga burung bagus yang menurunkan anak-anak yang bagus juga. Ini berkaitan dengan apa yang disebut dengan "kemampuan breeding" atau breeding capability yaitu kemampuan indukan untuk menurunkan sifat2 yang dimilikinya kapada turunannya.

Kembali ke masalah eye sign. Kegunaan eye sign adalah untuk menilai burung yang mempunyai kemampuan breeding yang bagus yaitu burung yang akan mampu menurunkan sifat-sifatnya kepada anaknya. Tetapi kalau sifat/karakteristik indukannya jelek maka turunannya juga akan jelek. Bukan berarti kalau punya kemampuan breeding bagus anaknya secara otomatis akan bagus. Oleh sebab itu, dalam kita breeding rumus dasarnya adalah "the best vs the best". Jangan memulai breeding dengan indukan yang kualitasnya tidak jelas. Tetapi "the best vs the best" saja tidak cukup apabila tidak mempunyai kemampuan breeding yang bagus.

Prinsip2 pokok penyilangan berdasarkan eye sign:

1. Jangan menyilangkan 2 burung yang mempunyai type eye sign sama tetapi sebaiknya berbeda sama sekali (menurut Bishop).
2. Menyilangkan eye sign type racer dengan type racer akan menghasilkan racer yang kualitas anakannya semakin lama akan semakin menurun (menurut Vickers)
3. Menyilangkan eye sign type breeder dengan type racer akan menghasilkan racer dengan kualitas anakan yang lebih stabil
4. Menyilangkan eye sign type breeder dengan type breeder akan menghasilkan breeder.

Sebeluma kita lanjutkan masalah penyilangan, kiranya perlu dipahami bahwa burung dengan breeder eye sign bukan berarti tidak cocok untuk jadi racer karena ada burung yang berkualifikasi racer dan breeder sekaligus (dual purpose). Selain itu, menyilangkan hanya berpatokan pada eye sign saja tidak tepat karena eye sign hanya sebagai alat seleksi untuk memilah mana burung yang cocok sebagai breeder dan mana yg cocok sebagai racer atau dual purpose. Untuk bisa menyilangkan dengan benar harus dikuasai juga metode penyilangan dalam genetic breedings.

Berikut ini adalah penyilangan yang disarankan oleh Bishop dengan melihat eye sign (E/S). Yang penting adalah jangan menyilangkan 2 type E/S yang sama karena tidak akan membawa perbaikan.

1. Type E/S yang paling umum adalah type no.2 (lying sign). Type no. 2 ini akan bagus disilangkan dgn E/S no.3. Secara statistik, penyilangan ini cenderung akan menghasilkan turunan dgn type E/S no. 4 (half circle). Kalau di kandang kita hanya ada burung dgn E/S no 2 dan 3 saja, tidak perlu khawatir. Dengan penyilangan yg hati2 dan sedikit kesabaran, kandang kita akan mendapatkan E/S no. 7.

2. Apabila kita memiliki burung dgn E/S no. 5, 6, atau 7 maka burung tersebut harus segera masuk kandang breeding karena ini merupakan modal yang sangat berharga. Kalau kita punya type no.7, dengan linebreeding yang baik dan benar maka di kandang kita akan diisi oleh burung2 dengan E/S yang sangat baik. Terutama apabila burung yg memiliki E/S no.7 adalah betina.

3. Type E/S no. 2 dan no. 3 akan bagus disilangkan dgn type E/S no. 4. No.Type no. 4 juga akan bagus disilangkan dgn no.5 terutama apabila yang punya E/S no. 5 adalah betina.

4. Bishop tidak menyarankan penyilangan E/S no. 5 dan no.6, tetapi apabila no.5 atau no.6 disilangkan dgn no.7 hasilnya akan sangat baik.

5. Apabila kita memiliki betina dgn E/S no. 7, maka disilangkan dengan no. 2,3,4,5 atau no.6 akan sangat mungkin menghasilkan turunan dengan E/S no. 8 yang merupakan type racer yang sangat baik. Dengan kata lain, kalau kita memiliki betina dgn E/S no. 7, akan sangat berharga untuk menghasilkan E/S type racer.

6. E/S no. 9 disilangkan dengan type yang mana saja, kecuali no.1 (no eye sign) akan memperbaiki kualitas E/S hasil ternak kita. Bahkan apabila disilangkan dengan no.7 akan sangat mungkin menghasilkan type violet (untuk mata pilo) atau the Green (utk mata kuning). Tetapi Bishop cenderung untuk tidak menyarankan penyilangan no.9 dgn no.2 karena sama2 type racer.

7. E/S no. 10 merupakan super breeder untuk menghasilkan burung2 jawara asalkan jangan disilangkan dengan type no.1. Kalau type no. 10 ini disilangkan dengan no.7 atau no.9 akan sangat mungkin menghasilkan "the Green" juga.

Saya kira itu, prinsip penyilangan yang disarankan oleh Bishop.

Saran saya,apabila kita menyilangkan agar hasilnya dicatat dengan baik untuk melihat pola penurunannya. Hasil analisa dari catatan yang kita buat akan sangat bermanfaat untuk memperbaiki kualitas E/S ternakan kita.
Sekali lagi, E/S hanya salah satu alat seleksi yang bisa kita lihat (visible). Selain melihat E/S, kita tetap wajib memperhatikan perabotan yang lain karena kualitas burung tidak hanya ditentukan oleh kualitas matanya saja. Tetapi burung yang bagus harus didukung oleh kualitas mata yg bagus.

Saya kira pengertian dasar E/S sudah cukup memadai untuk bekal dalam meneliti kualitas E/S burung kita. Silahkan diamati apakah cocok untuk diaplikasikan kepada merpati Indonesia.

Kita sudah bahas menyilangka dengan patokan eye sign menurut Bishop. Sekarang kita lanjutkan dengan penyilangan menurut Bob Flaming.

Seperti sudah disampaikan sebelumnya, Bob Flaming merupakan pengikut Bishop tetapi dia juga mengembangkan dasar2 eye sign yang ditulis oleh Bishop. Apabila Bishop memfokuskan hanya pada circle of correlation, Flaming juga melihat kualitas iris, tetapi prinsip2 dasarnya sama.

Perbedaan model penyilangan menurut Bishop dan Flaming adalah kalau Bishop hanya melihat bentuk dan posisi eye sign (circle of correlation) sementara Flaming selaian melihat bentuk dan posisi eye sign juga melihat warna circle of correlation dan warna iris. Tetapi prinsip dasarnya saya, yaitu menyilangkan burung yang eye signnya "contrast" artinya harus warna yang berbeda.

1. Menurut Flaming, menyilangkan merpati dengan berpatokan pada eye sign bukanlah eksperimen, tetapi motode yang sudah terbukti dapat meningkatkan kemampuan racing dan potensi breeding. Dalam banyak kasus kelemahan2 indukan, kecuali kelemahan fisik, akan terlihat pada matanya sehingga dapat diseleksi agar tidak muncul pada turunannya. Yang penting aalah harus "kejam" waktu melakukan seleksi. Maksudnya jangan ragu untuk menyingkirkan burung yang tidak memenuhi syarat agar kualitas ternak kita tetap terjaga.

2. Jika mempunyai lebih dari satu type the violet atau the green, boleh menyilangkan violet dgn violet atau green dengan green dan akan menghasilkan racer dan breeder yang excellent. Tetapi tetap disarankan jangan warna yg sama.

3. The Yellow jangan disilangkan dengan yellow juga, tetapi kalau tidak ada pilihan warna lain, bisa kuning muda dan kuning tua.

4. Eye sing warna hitam adalah type super breeder (strong circle) dan karenanya bisa disilangkan dengan eye sign warna apa saja (kuning, hijau, atau bitu keabu-abuan). Hal yang saya juga berlaku untuk violet karena ini juga type super breeder.

5. Menyilangkan 2 burung mata jawa (bull eye) akan menghasilkan burung dengan iris yang lemah. Menyilangkan burung yang sama-sama memiliki warna eye sign dan iris yang lemah juga akan menghasilkan eye sign agak lemah dan sangat lemah.

6. Jangan menggunakan burung dengan warna eye sign dan iris yang lemah sebagai breeder. Lebih baik menggunakan yang sama2 warna gelap.

7. Apabila menyilangkan burung yang memiliki mata type breeder dengan type racer, maka akan menghasilkan type racer yang lemah. Begitu juga kalau menyilangkan burung type breeder dengan dual purpose yang lebih cenderung ke racer, hasilnya akan sama (type racer yg lebih lemah)

8. Tetapi kalau mata type breeder disilangkan dengan mata type dual purpose yg cenderung ke breeder, maka 80 % turunannya akan memiliki mata type racer dan separoh dari sisanya yang 20 % akan memiliki kualitas mata lebih bagus dari indukannya.

Eye sign lebih difokuskan apakah seekor burung cocok untuk breeder atau racer. Sebetulnya fokusnya pada mencari breeder. Kalau tidak cocok untuk breeder otomatis hanya bisa sebagai racer.
Faktor lain seperti anatomi wajib untuk dinilai. Eye sign yg bagus tanpa didukung oleh faktor lain tidak ada gunanya.
Biasanya dalam menilai burung mereka mengelompokan menjadi 3 faktor, yaitu:

1. Faktor struktural yang meliputi antara lain kualitas bulu, sayap, tulangan, otot, dan lain-lain yang bisa dilihat dan diraba atau faktor anatomi. Biasanya kita hanya fokus pada faktor struktural saja dalam menilai burung.

2. Faktor fungsional yang meliputi fungsi organ tubuh bagian dalam seperti fungsi jantung, liver, ginjal, dll. Eye sign bisa membantu mendeteks/ memperkirakan bagaimana fungsi organ bagian dalam ini dengan melihat Vermeyen ring atau Health circle.

3. Faktor psikologis yang meliputi kecerdasan, semangat tempur, "sense of urgency" (mungkin bisa diterjemahkan menjadi ingin cepat-cepat sampai). Faktor psikologis biasanya dilihat dari ekspresi wajahnya (80 % bisa tercermin dari wajahnya). Untuk bisa menilai perlu latihan. Dan 20 % lagi dilihat dari sikap burung waktu dipegang.

Semoga bermanfaat

salam...

authors : Mr. Hermono


Sumber:
http://merpati.org

Jumat, 18 Juni 2010

WINGS THEORY

1. Peranan Karakter.

Dalam teori breeding sudah kita bahas bahwa sebelum memulai breeding kita harus mempunyai konsep atau gambaran karakteristik burung yang akan kita produksi (misalnya burung yg terbangnya nggremet). Setalah itu, lalu kita mencari indukan yang sudah teruji mampu menghasilkan anakan yg terbangnya nggremet atau indukan yg teruji terbangnya nggremet. Kita tau bahwa karakter (termasuk mordant) merupakan turunan. Seperti juga pernah kita bahas, menurut Steven Van Breemen, karakter ini diturunkan kepada anaknya secara "intermediary", yaitu 1/2 dari sifat bapaknya dan 1/2 lagi dari ibunya. Ini artinya, kalau kita mau memproduksi burung yang terbangnya nggremet maka induk jantan dan betina harus punya karakter terbang nggremet.
Karakter ini yang akan menentukan apakah burung MAU terbang tinggi atau tidak. Sementara apakah burung MAMPU terbang tinggi atau tidak ditentukan atau setidaknya dipengaruhi oleh fungsi anatomi dan energi yang dimilikinya. Penjelasannya, meskipun burung mempunyai kemampuan terbang tinggi, tetapi apabila anatomi atau perabotannya tidak mendukung (tidak efisien) maka akan membutuhkan tenaga yang lebih besar. Dan manakala cadangan energi yang dimiliki tidak mencukupi atau tidak mendukung, maka burung tersebut tidak akan MAMPU terbang tinggi. Khusus mengenai terbang nggremet, ada satu faktor yang tidak dibahas oleh Colin Walker, tetapi menurut saya sangat penting yaitu airsac yang menentukan cadangan oxygen. Argumentasi saya, semakin tinggi burung terbang, lapisan oxygen diudara semakin tipis. Contohnya, kalau kita berada di atas gunung nafas terasa lebih berat dibandingkan kalau kita di dataran rendah karena di dataran tinggi lapisan oxygennya lebih tipis. Selain itu, burung yang punya airsac bagus, kalau dipegang juga akan terasa lebih ringan. Faktor berat badan ini juga menentukan efisiensi penggunaan energy. Yang juga perlu diingat bahwa jumlah energy ditentukan oleh manusia yaitu dari cara pemberian pakan dan manajemen kesehatan.

2. Fungsi Bulu Sekunder dan Primer

Seperti sudah dijelaskan oleh Colin Walker, bulu sekunder yang panjang, rapat (tebal) dan agak melengkung ke bawah akan memberikan daya angkat (lift) yang maksimal. Sementara sayap primer menentukan daya dorong (propulsion). Daya dorong yang maksimal akan dihasilkan oleh permukaan sayap primer (surface area) yang luas, yaitu bulu primer yang panjang, rapat dan ujungnya bulat. Permasalahannya, untuk menggerakan surface area sayap primer yang luas diperlukan energy yang lebih besar karena kepakan sayap menjadi lebih berat. Untuk berung long distance, maka sebaiknya 4 bulu primer terluar ujungnya lancip sehingga ada ventilasi. Dengan adanya ventilasi maka kepakan sayap menjadi lebih ringan dan penggunaan energypun menjadi lebih efisien.

Bulu sekunder yang panjang, rapat dan agak melengkung hanya akan memberikan dampak mengangkat (lift) maksimal apabila didukung oleh adanya daya dorong (propulsion) yang besar. Kita lihat pesawat yang akan take off, maka sayap bagian dalam akan diturunkan dan kecepatan ditambah sehingga menimbulkan daya angkat (passive lift). Tetapi apabila bila sayap pesawat bagian dalam diturunkan dan kecepatan dikurangi, maka ia akan berfungsi sebagai rem.
Jadi fungsi sayap sekunder sebagai alat untuk mengangkat (lift) ditentukan oleh besarnya daya dorong yang dihasilkan oleh sayap primer. Permasalahnya adalah mencari perbandingan yang ideal antara panjang sayap sekunder dan primer serta cadangan energy sehingga mampu menimbulkan daya angkat yang maksimal dengan energy yang tersedia/dimiliki. Di sini kita akan berhadapan dengan beberapa kemungkinan/skenario:

a. Semakin panjang sayap sekunder, maka diperlukan sayap primer dengan permukaan sayap (surface area) yang semakin luas. Permasalahannya diperlukan energy yang lebih besar. Untuk mendeteksi permukaan sayap primer cukup luas adalah dengan melihat "step up" antara sayap sekunder dan sayap primer. Semakin besar step up, maka semakin luas permukaan sayap primer ( dengan catatan daun bulu lebar dan rapat).

b. Apabila sayap sekunder pendek dan sayap primer panjang, rapat dan lar bulat diujungnya (terlihat dari step-up yang besar) maka burung akan terbang cepat tapi ketinggian akan lebih sulit dicapai. Type sayap ini cocok untuk burung sprinter (seperti merpati balap). Kalau burung dengan sayap seperti ini tetapi punya karakter nggremet, maka untuk mencapai ketinggian yg maksimal dibutuhkan tenaga yang lebih besar dan apabila tenaganya tidak mencukupi maka dengan sendirinya akan kehabisan tenaga.

c. Permukaan sayap sekunder luas tetapi tidak didukung oleh sayap primer yang luas juga (akan ada "step-down" antara sayap sekunder dan sayap primer), maka ini jenis burung yang tidak cocok untuk terbang tinggi maupun terbang cepat. Mungkin lebih baik diafkir saja.

Yang jadi pertanyaan adalah berapa cm step-up yang ideal??. Saya kira ini sangat relatif karena juga dipengaruhi oleh ukuran badan burung. Ada yang berpendapat sekitar 1/2 cm. Tapi menurut saya yang penting adalah ada step-up yang "noticeable"/terlihat nyata. Satu hal lagi yang menurut saya perlu diperhatikan adalah kualitas otot dan tulang sayap. Dengan kualitas otot yang baik, maka penggunaan energi juga akan lebih efisien. Sementara tulang sayap yang baik akan memberikan stabilitas kepakan.

3. Stay in the Air

Saya kira pengertian stay in the air ini tidak hanya sebatas mampu terbang atau mampu diudara, tetapi juga mampu mempertahankan suatu ketinggian tertentu.
Kita tau bahwa pada saat burung di udara dia kan tidak mandek (standstill) tetapi bergerak ke depan, baik mengepak ataupun tidak mengepak (mbaplang) karena ada dorongan angin. Apabila ada daya dorong dan burung MAU terbang tinggi (karena karakternya), maka dengan struktur sayap sekunder yang baik, ketinggian akan lebih mudah dicapai dibandingkan dengan burung yang sayap sekundernya kurang baik. Saya kira itu maksud dari statement-nya Mas Colin.

Saya kira itu pendapat saya. Kalau keliru ya mohon diampuni. Ini hanya sebagai bahan diskusi yang mungkin ada manfaatnya.
Salam.
Hermono


Sumber:
http://merpati.org

Kamis, 17 Juni 2010

Asal Usul Permainan Merpati


Kapan dan di daerah manakah merpati (tinggian) pertama kali di mainkan di Indonesia??

Banyak yang meyakini bahwa permainan merpati (tinggian) pertama kali dimainkan di daerah Jawa Timur, khususnya di Pulau Madura sekitar 100 thn yang lalu. Saya sendiri tidak tau pasti, tapi kemungkinan pendapat ini benar. Sayangnya saya sendiri belum pernah membaca catatan atau dokumentasi permaianan merpati di Indonesia.

Kalau benar orang Madura sebagai penggagas atau inventor permain merpati di Indonesia, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apakah ini murni ciptaan atau temuan orang Madura atau hasil mencontoh permainan orang lain atau bangsa lain?? Kalau hasil mencontoh, orang Madura mencontoh dari mana dan bagaimana prosesnya??.

Hipotesa saya, orang Madura hanya mencontoh dan memodifikasi permainan merpati tinggi yang sudah ada sebelumnya. Argumentasi saya sederhana. Pertama, permainan merpati sudah berabad-abad yang lalu dimainkan oleh bangsa lain meskipun awalnya merpati pos. Kedua, merpati bukan merupakan hewan indigenous (asli) Indonesia. Merpati masuk ke Indonesia pasti dibawa oleh orang asing atau orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri.

Sekarang kita coba telusuri bagaimana permainan merpati tinggian masuk ke Indonesia. Analisa saya bisa benar tapi bisa juga salah. Tapi sebagai suatu ikhtiar untuk menjawab suatu fenomena saya kira sah-sah saja. Yang penting tidak bengong mengisi puasa pertama yang kebetulan jatuh di hari libur. Very Happy Very Happy Very Happy

Ada satu buku yang saya beli beberapa waktu yg lalu membahas berbagai macam jenis merpati. Secara garis besar, merpati dibagi menjadi 3 kelompok yaitu fancy pigeon (merpati hiasa), performance pigeon (merpati utk dinikmati cara kerjanya), dan utility pigeon (merpati potong). Dalam kelompok performance pigeon dibagi lagi kedalam berbagai jenis (family) seperti racing pigeon, roller, tumbler, highflier, dan lain-laian. Satu jenis yang menarik perhatian saya adalah jenis "Diving Breed" (menukik/menyelam dari atas). Dalam kelompok keluaga diving ini ada beberapa species atau strain antara lain Dewlaps dan Doneks adalah yang paling terkenal. Yang lain adalah Wutas dan Kelebeks. Apa yang menarik dari nama-nama species tersebut ??? Yang jelas bukan nama Inggris atau Latin tetapi dari daerah Timur Tengah atau Arab dan sekitarnya termasuk Turkey dan Mesir. Permainan merpati jenis Diving sudah lama dikenal di daerah timur tengah dan yang paling populer konon di daerah Turki dan Iran.
Cara memainkannya ada kemiripan dengan cara memainkan merpati tinggian. Perbedaannya mereka tidak giring. Burung mulai dilatih terbang pada umur sekitar 7 mingggu bersama sama dengan burung dewasa. Cara melatihnya burung dibiasakan diberi makan di tempat tertentu dekat kandang dan setiap akan diberimakan burung dipanggil dengan menggunakan tanda-tanda tertentu. Biasanya dengan peluit atau kaleng berisi jagung yg dikocok-kocok sehingga mengeluarkan bunyi. Pada saat yang bersamaan juga si pemilik mengelepek dengan burung yg berwarna putih (terang) atau dengan kaos. Sehingga burung terbiasa bahwa setiap ada tanda bunyi atau klepekan, maka waktunya untuk makan. Cara ini terus diulang-ulang sampai burung benar-benar hafal dengan klepekan. Jadi klepekan digunakan sebagai tanda waktu makan, bukan karena giring.

Selanjutnya burung dilatih lawatan dalam jumlah kecil yaitu hanya 2 atau 3 ekor saja. Burung akan terus berputar-putar diatas kandang dengan radius sekitar 200 m. Setelah mencapai ketinggian tertentu maka si pemilik akan mengelepek dengan burung yang berwarna putih (terang) atau kaos. Yang penting yg digunakan untuk nglepek warnanya sama dengan warna yg digunakan untuk latihan.
Setelah diklepek, burung akan menukik vertikal dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dalam buku tersebut dilukiskan turunnya seperti gunting yang dijatuhkan dari atas dan meluncur dengan membentuk spiral (ngebor). Diceritakan juga oleh penulis buku bahwa pada saat kita berdiri di dekat burung yang turun akan terdengar suara WUUUUZZZZZZ, saking kencengnya dan sering juga terjadi musibah burung nabrak sampai mati.

Jenis merpati lain yang kemungkinan mempengaruhi strain merpati tinggian adalah jenis highflier. Keistimewaan burung ini adalah punya hobby terbang sangat tinggi sampai berjam-jam. Konon ada strain tertentu yang mampu terbang 12 jam non-stop. Highflier terbangnya juga hanya disekitar kandang. Tetapi menurut saya yang paling mempengaruhi strain merpati tinggian adalah "species diving".

Sumber:
http://www.merpati.org

Rabu, 16 Juni 2010

Menyiapkan merpati balap sprint untuk lomba, pakan dan perawatan fisik

Lomba merupakan ajang akhir pembuktian dari latihan. Setelah Anda memahami tulisan megenai latihan merpati balap ini (lihat tulisan sebelumnya: Panduan Praktis Cetak Merpati Balap Sprint dan Pelatihan Awal Merpati Balap Sprint, maka Anda perlu memahami penyiapan lomba merpati balap. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari kedua tulisan tersebut yang diambil dari sisipan Majalah Trubus.
Wadah lomba burung merpati balap sekarang ada di dalam koordinasi Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonesia (PPMBSI). Setiap lomba yang diadakan terbagi dalam 5 kelas, yakni lomba 500 m, lomba galatama bintang dan galatama seri A, B, C; lomba utama, lomba antar tim atau kandang dan lomba piyik.
Untuk lomba, PPMBSI mensyaratkan peserta menjadi anggota. Sementara syarat lomba lain yang juga harus diperhatikan antara lain; pada lomba 500 m dan lomba piyik, jarak lepas minimum 500 m dan maksimal 600 m. Khusus untuk piyik, ia harus memakai ring; usia merpati saat bertanding tidak lebih dari 10 bulan yang dibuktikan dengan menyerahkan sertifikat dari peternak. Sedangkan pada lomba galatama dan uatama, jarak lepas minimum 1000 m dan maksimal 1.200 m. Jumlah peserta setiap seri 8-16 ekor.
Sehari sebelum lomba pada Kamis, joki beserta burung melakukan pengenalan lapangan. Latihan dilakukan pada jarak 200 – 300 meter sebanyak 5-6 kali atau 500 m sekitar 4-5 kali. Saat ia bertemu dengan calon musuh biasanya setelah pulang akan lebih bernafsu untuk kawin. Lantaran sering maka insting akan terlatih, yakni sepulang latihan langsung kawin. Ini pertanda bagus karena kadar ngeketnya bertambah. Apalagi jika si merpati sanggup kawin 4-5 kali.
Pagi hari sebelum lomba, merpati harus dijemur. Ia juga diberi sedikit pakan untuk menambah stamina. Saat jeda setelah bertanding, merpati pun perlu disegarkan kembali. Caranya, beri semprotan air di sekitar kaki dan minum seperlunya. Perlakuan itu diulang selama lomba berlangsung.
PERAN JOKI
Setiap merpati balap memiliki joki tetap. Joki bertugas untuk menangkan jantan dan memegang betina (ngeplak atyau ngeplek). Ia juga dibantu seorang asisten yang berfungsi sebagai penggabur (pembawa jantan). Sangat dianjurkan joki memakai baju dengan warna tetap selama latihan dan lomba. Tujuannya supaya merpati sudah mengenalnya dari jarak jauh.
Namun seringkali saat lomba, kontestan yang beradu memakai baju berwarna sama. Oleh karean itu joki diwajibkan membiasakan diri selalu berteriak memanggil nama sang burung. Teriakan itu menandakan keberadaan joki. Secara psikologis juga sebagai pelampiasan emosi untuk melepas ketegangan.
Agar hubungan joki dan merpati lebih erat, biasakan setelah berlatih atau berlomba diakhiri dengan pengelusan di sekujur tubuh. Pengelusan dapat berlanjut dengan pengurutan seperlunya di bagian pangkal sayap untuk menghilangkan rasa lelah.
Saat mengikuti lomba pun joki harus mengetahui tata tertib lomba agar tidak merugi sendiri. Contoh, joki diperkenankan menangkap jagoannya saat terbang tetapi ia tidak diperbolehkan menangkap ketika merpati hinggap di badan atau kepala. Bila dilanggar akan dinyatakan kalah.
PAKAN DAN PERAWATAN MERPATI BALAP SPRINT
Pakan merupakan sumber energi bagi merpati balap. Asupan pakan yang sesuai memperkuat daya tahan tubuh seperti pada olahragawan. Secara alami anggota keluarga columbidae itu sangat menyukai biji-bijian seperti jagung.
Jagung yang diberikan tidak sembarang. Ia bukan jagung pipilan biasa, tetapi jagung madura. Sepintas jagung ini mirip dengan jagung biasa tetapi ukurannya lebih kecil sesuai dengan ukuran mulut merpati. Setidaknya merpati dewasa perlu pakan 37 gram per ekor, remaja 25 gram dan anakan 5-10 gram per ekor.
Pakan diberikan pada pagi dan sore seusai berlatih. Jagung yang kotor lantarana diberaki harus diganti karena menjadi sumber penyakit burung merpati .
Agar tetap fit, asupan vitamin dan mineral terkadang perlu diberikan. Terutama setelah berlatih atau berlomba ketika nafsu makan di merpati berkurang. Bila vitamin berupa tablet bisa langsung dilolohkan ke paruh. Namun bila sediaannya serbuk, campurkan bersama air minum.
Para penangkar juga sering menggunakan bahan tradisional untuk menjaga vitalitas merpati balap. Contoh, kunyit sebagai antibiotik, penghilang lelah dan menambah nafsu makan. Rimpang kunyit biasanya dipotong kecil kemudian disangrai (sangan) dan dilolohkan. Tetapi agar khasiatnya lebih bagus, campurkan dengan telur dan madu.
Sayang, perlakuan itu lebih banyak dinikmati pejantan. Betina kelepekan jarang diperhatikan padahal ia juga butuh pakan bagus untuk menjaga stamina. Bila betina tidak diberi perlakuan serupa, kesehatnnya akan terganggu dan nafsu kawinnya menurun. Lama kelamaan kesehatan betina drop.
Kebanyakan penangkar justru menggonta-ganti betina. Hal ini tidak dianjurkan lantaran si jantan akan merasa kehilangan pasangan sebelumnya.

Sumber:
http://agroburung.com

Rabu, 09 Juni 2010

STAR VIT

Harga 50.000,-
Komposisi:
Multivitamin Komplek

Kegunaan:
  1. Star vit mengandung multivitamin kompleks yang dibutuhkan oleh burung/unggas untuk pertumbuhan, daya tahan, reproduksi, meningkatkan nafsu makan dan lain-lain.
  2. Star Vit membantu pertumbuhan normal dan meningkatkan daya tahan tubuh dari perubahan cuaca, wabah penyakit, stress perjalanan.
  3. Star Vit mengandung vitamin A agar mata tidak terserang katarak, mengandung vit D3 untuk pertumbuhan tulang.
  4. Star Vit mengandung vitamin E untuk reproduksi sehingga sangat baik untuk para breeder burung.
  5. Star Vit memulihkan kesehatan setelah sakit/lomba.
Dosis:
  1. 1-2 tetes untuk burung dan 4-5 tetes untuk ayam langsung ke mulut
  2. atau 5 tetes dicampur air minum secukupnya, dapat digunakan bersama antibiotika saat sakit.

Cara mudah pemesanan :
  1. Kirim SMS Nama Obat yang ingin anda beli dan alamat anda Ke 081 249 495 990
  2. Kami akan membalas tentang ketersediaan barang dan harga sampai ketempat anda.
  3. Silahkan anda melakukan transfer ke rekening kami.
  4. Pengiriman barang akan kami proses
  5. Silahkan menunggu pesanan di rumah anda

Trimezyn-B (plus)


Trimezyn - B (Plus) adalah obat anti infeksi dengan bentuk kaplet yang berwarna merah muda untuk mengobati infeksi saluran pernafasan dan pencernaan pada burung kecil maupun besar. Kombinasi 2 zat aktif pada trimezyn - B (Plus) bekerja secara synergis ( saling menguatkan )untuk menghambat sintesa ( pembentukan ) protein bakteri sehingga bakteri tidak dapat berkembang dan burung menjadi cepat sembuh. Vitamin C yang terkandung dalam trimezyn-B (Plus) berfungsi membantu mempercepat penyembuhan dan menghilangkan strees.

Komposisi :
Setiap kaplet mengandung :
Sulfadiazine ........................................................................................... 16 mg
Trimethoprim ....................................................................................... 3.2 mg
Vitamin C ............................................................................................... 1 mg
Indikasi:
  • Infeksi saluran pernafasan ( keluar cairan dari hidung atau mulut, muka bengkak, ngantuk, sesak nafas, sayap terkulai )
  • Infeksi saluran pencernaan (lesu, mencret, tembolok bengkak, nafsu makan turun
Dosis dan Aturan Pakai :kaplet dimasukan kemulut dan didorong kedalam kerongkongan atau dihancurkan lalu dicampur dengan ransum atau air minum:Tebal
  1. Burung Besar : 1 kaplet tiap hari seperti burung : beo, cucak hijau, cucakrowo, derkuku, hwa mei, jalak, merpati, nuri, poksay, puter, puyuh.
  2. Burung kecil : 1/2 kaplet tiap hari seperti burung : Black ken, kenari afrika, branjangan, cendet/toet, ciblek, kacer, kenari, kutilang, murai, parkit, payling, perkutut, prenjak, punglor, robin.
Pemberian obat selama 3-5 hari berturut-turut
harga satu botol Trimezyn - B (plus ) Rp 50.000 sudah termasuk ongkos kirim.
Info pemesanan silahkan hub Contact Person di:
081 249 495 990




Burung yang biasa terbang jauh sebaiknya kondisi harus dijaga agar tetap dalam kondisi prima. Bila anda ingin memiliki burung juara pilihlah burung yang benar-benar sudah dewasa. untuk menjaga merpati tetap dalam kondisi siap tanding, selain rajin dilatih terbang juga diperlukan juga ramuan jamu merpati balap yang sangat mendukung untuk menambah tenaga merpati, selain itu juga jamu merpati balap dapat berfungsi untuk menyembuhkan burung yang sedang sakit.

Aturan Minum :untuk menjaga kesehatan cukup diberi jamu merpati balap seminggu sekali ( 3 butir). untuk burung yang sakit diberi jamu (2 butir ) sampai sembuh.
harga satu bungkus Jamu Merpati Balap Rp 50.000 sudah termasuk ongkos kirim.
Info pemesanan silahkan hub Contact Person di:
081 249 495 990


STAR ENRO-1

Harga Rp. 50.000,-
Antibiotika Enrofloxacin - 1%

Kegunaan:
Antibiotika Enrofloxacin adalah antibiotika modern jenis broad spectrum (spectrum luas) yang membunuh bakteri pada inti sel. Star enro mengatasi penyakit pada burung/unggas yang disebabkan oleh bakteri terutama jenis mycoplasma yang menyerang pernafasan/ CRD atau ngorok, kolera (berak hijau), snot (pilek), e-coli, salmonella dan lain-lain.

Dosis:
1-2 tetes pada burung 3 kali sehari selama 3-5 hari berturut-turut
5-6 tetes pada ayam 3 kali sehari selama 3-5 hari berturut-turut
atau diberikan Berikan 5-6 tetes pada air minum secukupnya, jangan sampai berlebih agar dapat dikonsumsi langsung. Bila ada sisa untuk pemberian selanjutnya harap diganti. Berikan selama 3-5 hari berturut-turut.

Cara mudah pemesanan :
  1. Kirim SMS Nama Obat yang ingin anda beli dan alamat anda Ke 081 249 495 990
  2. Kami akan membalas tentang ketersediaan barang dan harga sampai ketempat anda.
  3. Silahkan anda melakukan transfer ke rekening kami.
  4. Pengiriman barang akan kami proses
  5. Silahkan menunggu pesanan di rumah anda
  6. Harga bukan masalah selama dapat menyelesaikan masalah
 
Merpati Balap Jember Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template