Tampilkan postingan dengan label Apa Itu Merpati Balap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apa Itu Merpati Balap. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juli 2010

Merpati Andhokan

Berbeda dengan bentuk aduan pada kedua merpati pos maupun kentong, merpati andokan ini merupakan jenis merpati yang dapat diadu kecepatannya di mana saja secara berpindah-pindah.

Boleh dibilang jenis merpati inilah yang termasuk merpati penerbang cepat. Tentu saja jarak tempuhnya relatif paling dekat. Jarak yang dilombakan mulai ratusan meter hingga ribuan meter saja, tidak sampai mencapai puluhan kilometer.

Bentuk lomba yang diikuti jenis merpati yang sebagian masyarakat Jawa mengenalnya dengan istilah doro undukan melibatkan sepasang merpati. Merpati jantan dilepas pada jarak tertentu (di garis start) dan di garis finis telah menunggu merpati betina. Merpati jantan dilepas di garis start oleh pelepas, sedangkan pasangannya dibawa oleh seorang joki di garis finis. Penilaian sama dengan aduan merpati jenis lain. Merpati yang datang di garis finis terlebih dahulu dinyatakan sebagai pemenang.

Merpati andokan di kalangan penggemarnya di Indonesia lebih dikenal dengan nama merpati balap. Selanjutnya akan diulas secara detail mulai dari perkembangan, memilih bakalan, cara melatih, merawat kesehatan, beternak, hingga mempersiapkan lomba beserta penjokiannya.

Kamis, 17 Juni 2010

Asal Usul Permainan Merpati


Kapan dan di daerah manakah merpati (tinggian) pertama kali di mainkan di Indonesia??

Banyak yang meyakini bahwa permainan merpati (tinggian) pertama kali dimainkan di daerah Jawa Timur, khususnya di Pulau Madura sekitar 100 thn yang lalu. Saya sendiri tidak tau pasti, tapi kemungkinan pendapat ini benar. Sayangnya saya sendiri belum pernah membaca catatan atau dokumentasi permaianan merpati di Indonesia.

Kalau benar orang Madura sebagai penggagas atau inventor permain merpati di Indonesia, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apakah ini murni ciptaan atau temuan orang Madura atau hasil mencontoh permainan orang lain atau bangsa lain?? Kalau hasil mencontoh, orang Madura mencontoh dari mana dan bagaimana prosesnya??.

Hipotesa saya, orang Madura hanya mencontoh dan memodifikasi permainan merpati tinggi yang sudah ada sebelumnya. Argumentasi saya sederhana. Pertama, permainan merpati sudah berabad-abad yang lalu dimainkan oleh bangsa lain meskipun awalnya merpati pos. Kedua, merpati bukan merupakan hewan indigenous (asli) Indonesia. Merpati masuk ke Indonesia pasti dibawa oleh orang asing atau orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri.

Sekarang kita coba telusuri bagaimana permainan merpati tinggian masuk ke Indonesia. Analisa saya bisa benar tapi bisa juga salah. Tapi sebagai suatu ikhtiar untuk menjawab suatu fenomena saya kira sah-sah saja. Yang penting tidak bengong mengisi puasa pertama yang kebetulan jatuh di hari libur. Very Happy Very Happy Very Happy

Ada satu buku yang saya beli beberapa waktu yg lalu membahas berbagai macam jenis merpati. Secara garis besar, merpati dibagi menjadi 3 kelompok yaitu fancy pigeon (merpati hiasa), performance pigeon (merpati utk dinikmati cara kerjanya), dan utility pigeon (merpati potong). Dalam kelompok performance pigeon dibagi lagi kedalam berbagai jenis (family) seperti racing pigeon, roller, tumbler, highflier, dan lain-laian. Satu jenis yang menarik perhatian saya adalah jenis "Diving Breed" (menukik/menyelam dari atas). Dalam kelompok keluaga diving ini ada beberapa species atau strain antara lain Dewlaps dan Doneks adalah yang paling terkenal. Yang lain adalah Wutas dan Kelebeks. Apa yang menarik dari nama-nama species tersebut ??? Yang jelas bukan nama Inggris atau Latin tetapi dari daerah Timur Tengah atau Arab dan sekitarnya termasuk Turkey dan Mesir. Permainan merpati jenis Diving sudah lama dikenal di daerah timur tengah dan yang paling populer konon di daerah Turki dan Iran.
Cara memainkannya ada kemiripan dengan cara memainkan merpati tinggian. Perbedaannya mereka tidak giring. Burung mulai dilatih terbang pada umur sekitar 7 mingggu bersama sama dengan burung dewasa. Cara melatihnya burung dibiasakan diberi makan di tempat tertentu dekat kandang dan setiap akan diberimakan burung dipanggil dengan menggunakan tanda-tanda tertentu. Biasanya dengan peluit atau kaleng berisi jagung yg dikocok-kocok sehingga mengeluarkan bunyi. Pada saat yang bersamaan juga si pemilik mengelepek dengan burung yg berwarna putih (terang) atau dengan kaos. Sehingga burung terbiasa bahwa setiap ada tanda bunyi atau klepekan, maka waktunya untuk makan. Cara ini terus diulang-ulang sampai burung benar-benar hafal dengan klepekan. Jadi klepekan digunakan sebagai tanda waktu makan, bukan karena giring.

Selanjutnya burung dilatih lawatan dalam jumlah kecil yaitu hanya 2 atau 3 ekor saja. Burung akan terus berputar-putar diatas kandang dengan radius sekitar 200 m. Setelah mencapai ketinggian tertentu maka si pemilik akan mengelepek dengan burung yang berwarna putih (terang) atau kaos. Yang penting yg digunakan untuk nglepek warnanya sama dengan warna yg digunakan untuk latihan.
Setelah diklepek, burung akan menukik vertikal dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dalam buku tersebut dilukiskan turunnya seperti gunting yang dijatuhkan dari atas dan meluncur dengan membentuk spiral (ngebor). Diceritakan juga oleh penulis buku bahwa pada saat kita berdiri di dekat burung yang turun akan terdengar suara WUUUUZZZZZZ, saking kencengnya dan sering juga terjadi musibah burung nabrak sampai mati.

Jenis merpati lain yang kemungkinan mempengaruhi strain merpati tinggian adalah jenis highflier. Keistimewaan burung ini adalah punya hobby terbang sangat tinggi sampai berjam-jam. Konon ada strain tertentu yang mampu terbang 12 jam non-stop. Highflier terbangnya juga hanya disekitar kandang. Tetapi menurut saya yang paling mempengaruhi strain merpati tinggian adalah "species diving".

Sumber:
http://www.merpati.org

Jumat, 15 Januari 2010

Pigeon Performance














Semua burung diciptakan, dilengkapi, dan memiliki cara terbang dengan memanfaatkan angin. Karena terbang membutuhkan energi yang besar, burung telah diciptakan dengan otot dada yang kuat, jantung yang besar dan kerangka yang ringan. Tingkat energi yang tinggi yang diperlukan oleh burung untuk terbang dihasilkan oleh metabolisme tubuh yang cepat untuk menghasilkan energi yang besar . Bukti kehebatan penciptaan pada burung tidak berhenti pada tubuhnya saja, banyak burung dapat menggunakan cara tertentu untuk menurunkan energi dan berat badan secara cepat pada saat yang diperlukan. Semua kelebihan yang dimiliki seekor burung merpati membentuk suatu kesatuan kompak yang menciptakan performance dari seekor merpati.

Pigeon performance suatu kinerja atau hasil kerja/prestasi dari seekor merpati (panjangnya) adalah kemampuan seekor merpati yang memiliki beberapa keunggulan seperti gaya terbang yang bagus, mampu terbang cepat, mampu terbang tinggi, mampu terbang dalam waktu yang lama, mampu menukik/terjun dengan sangat cepat, dan mampu mendarat/landing dengan sempurna. Serta memiliki kecerdasan/intellegence yang bagus, naluri/karakter/mental tanding/gameness yang bagus, serta memiliki fisik/anatomy yang bagus pula. Sehingga tercapainya suatu prestasi (hasil kerja/kinerja) berkualitas dan kuantitas dari seekor merpati yang dicapai melalui proses yang efektif dan efisien.

Pigeon Performance (singkatnya) tercapainya suatu prestasi (hasil kerja/kinerja) berkualitas dan kuantitas dari seekor merpati yang dicapai melalui proses yang efektif dan efisien.

3 CORE VALUES
















Banyak artikel dan buku tentang merpati yang memberikan tips, teknik, dan strategi mengenai bagaimana merawat, dan melatih seekor merpati dengan baik untuk mencapai suatu prestasi/performance yang memuaskan begitu pun banyak artikel dan buku yang memberikan tips, metode, dan cara-cara bagaimana mengembang biakan merpati sehingga menghasilkan calon-calon merpati juara baru yang sesuai dengan keinginan para peternak. Akan tetapi ada 3 pilar kekuatan (core values) yang patut kita pahami lebih jelas.

Seperti yang kita ketahui bahwa merpati adalah mahluk yang diberikan talenta / kelebihan yang cukup banyak dan merpati sudah dikenal cukup lama bahkan sejak sebelum masehi menjadi teman manusia sebelum anjing (sumber : 21 amazing facts about pigeon). Dari sekian banyak kelebihan yang dimiliki oleh merpati tetap semua kelebihan itu akan kembali kedalam 3 pilar kekuatan.

Sebelum melangkah lebih jauh selayaknya kita satukan persepsi dan perlu mengetahui bahwa kinerja / performance seekor merpati sangat ditentukan oleh 3 pilar kekuatan (core values) yang penting yang saling mengisi dan mempengaruhi satu dengan yang lainnya sehingga tercipta suatu kinerja / performance yang bagus, yaitu :
  1. Kecerdasan / Intellegence. Suatu kekuatan otak / kecerdasan yang membuat membuat seekor merpati mampu mengingat jalan pulang ke kandang walaupun dilepas dalam jarak yang cukup jauh, dan sebagainya.
  2. Karakter mental / naluri / Gameness / Attitude. Suatu kekuatan mental tanding yang membuat seekor merpati mampu membalikkan keadaan kalah / terjepit menjadi menang (gameness), pantang menyerah, berani, mudah beradaptasi dengan lingkungan, setia dan pe-cemburu, semangat yang tinggi, mau / mudah dilatih, dan sebagainya.
  3. Fisik / Anatomy .Suatu kekuatan fisik dalam pengertiannya adalah fisik luar dan fisik dalam / internal and external organ yang membuat seekor merpati mampu terbang dalam waktu yang lama, mampu terbang dengan cepat. Contohnya fisik luar yaitu memiliki bulu sayap dan ekor yang baik dan bagus, mata yang baik, otot yang kuat dan fleksibel , dan sebagainya. Sedangkan fisik dalam yaitu tulang yang kuat dan ringan, jantung yang baik, paru-paru yang bagus, dan sebagainya, serta pencernaan bagus yang menunjang metabolisme tubuh seekor merpati yang sangat cepat dibandingkan dengan mahluk yang lain, metabolisme yang cepat ini bertujuan untuk menghasilkan energi yang cukup besar dipakai merpati untuk terbang.
Ketiga pilar kekuatan diatas sangat menentukan kinerja / performance dari seekor merpati, kemudian kita juga perlu ketahui bahwa ketiga pilar kekuatan tersebut sangat ditentukan atau dipengaruhi oleh 3 faktor penting yang lainnya, yaitu :

Sumber:
http://tritunggalpigeonfarm.blogspot.com

Rabu, 14 Oktober 2009

Perbedaan Merpati Balap dan Merpati Tinggi

Merpati balap lain dengan merpati tinggi, jika merpati balap jarak tempuhnya adalah 200 meter, 500 meter dan 1200 meter, sedangkan merpati tinggi jarak tempuh untuk lombanya bisa 5 km hingga 10 km.

Untuk merpati balap yang bagus jika sudah melihat betinanya akan langsung turun dan terbang rendah sekitar setengah atau 1 meter dari tanah, sedangkan merpati tinggi setelah di lepas akan terbang tinggi dan berputar-putar dulu untuk mencari betinanya. Dan jika sudah melihat betina nya maka si jantan ini akan lagsung menjatuhkan dirinya dengan kecepatan tinggi menuju ke betinanya. Dan disinalah kemampuan lebih dari joki sangat diperlukan, selain juga karakter dari merpati itu sendiri. Jika jatuhnya meleset tak jarang saking kerasnya merpati ini akan terjatuh dan mati.

Untuk daerah malang, pasuruan, probolinggo dan jember jenis perlombaan yang sering diadakan adalah merpati balap Sprint atau jarak dekat ini. Hampir tidak pernah ada lomba balap merpati tinggi di daerah ini. Jenis merpati tinggi ini lebih membudaya di daerah jawa tengah, jogja dan jawa barat.


Selasa, 06 Oktober 2009

Ketika Kesetiaan Berkalang Maut

PERKARA "lari", Komar bisa diibaratkan dengan anak panah yang melesat dari busur. Staminanya juga panjang. Kalau hanya sekadar seratusan kilometer, ia mampu nonstop. Buktinya, perjalanan dari Tegal, Jawa Tengah, sampai Bandung, Jawa Barat, sekitar 165 kilometer potong kompas, hanya ditempuhnya dalam dua jam 25 menit.

Dengan catatan waktu inilah Komar menaklukkan 269 pesaingnya, Ahad dua pekan lalu. Sebagai kampiun, komar berhak memboyong trofi kejuaraan tingkat Jawa Barat. Ia sekaligus meraih tiket untuk maju ke kejuaraan nasional memperebutkan Piala Presiden, September mendatang.

Toh, nama Komar tidak tercantum dalam daftar atlet di Kominte Olahraga Nasional Indonesia, atau Persatuan Atletik Seluruh Indonesia. Ia juga tak tercatat di Pelatnas manapun jua. Sebab, apalah Komar: ia tak lebih dari seekor merpati pos! Namanya pun diambil dari nama depan pemiliknya: Komar Cahyana.

Menurut tuturan, lomba merpati pos di Indonesia dirintis oleh para soldadu Belanda di zaman kolonial. Rupanya, tradisi itu hidup terus, sampai kini. Seri pertandingannya berkesinambungan sepanjang tahun, mulai tingkat daerah hingga nasional. Penggemarnya datang dari Jakarta, Bandung, Solo, Semarang, Purworejo, dan Surabaya.

Para penggemar kemudian berserikat di dalam Perhimpunan Olahraga Merpati Pos Indonesia (POMP). Untuk kejuaraan tingkat Jawa Barat kali ini, sedikitnya 15 pemilik merpati --dari 20 anggota klub Alap Alap Bandung-- mengikutsertakan belasan burung andalannya. Total 270 burung diberangkatkan dari Bandung menuju Tegal, menumpang sebuah mobil bak terbuka, dua hari sebelum lomba.

Para burung menempati beberapa kandang kawat berukuran 100x60 sentimeter, dengan tinggi satu meter. Setiap kurungan ditempati 25 hingga 30 ekor. Setelah semua kontestan masuk, pintu kandang dikunci dan disegel. Sampai di Tegal, segel diperiksa pengawas lomba. "Kalau segel rusak, seluruh burung di dalam kandang itu tak bisa ikut lomba," kata Soedjad Soekardi, Ketua POMP Jawa Barat.

Soalnya, kalau segel rusak, ada kemungkinan merpati di dalamnya sudah "diutak-atik". Terutama pada karet gelang yang melilit di kaki masing-masing burung. Padahal, karet gelang itu ibarat kunci. Masing-masing burung punya nomor karet "rahasia", yang baru diketahui oleh pemilik burung ketika lomba berakhir. Pada saat seekor burung menyentuh garis finish, karet itu segera dicopot.

Momen inilah yang dijadikan pengunci gerak jarum jam. Demi menghindari kecurangan, seluruh jam khusus lomba merpati ini sebelumnya ditera dengan seksama. Dengan demikian, waktu tempuh masing-masing burung akan tercatat secara akurat. Uniknya, meskipun semua burung diberangkatkan dari tempat yang sama, finish-nya dipatok di masing-masing kandang.

Lomba dimulai pukul 07.00, setelah para kontestan rehat di Tegal sehari semalam. Sebelum panitia pelepas lomba sampai ke Bandung, para burung itu sudah nangkring di kandangnya masing-masing. Komar menclok di kandangnya di Jalan Vihara, Bandung, pada pukul 09.25. Dengan perkiraan jarak lurus Tegal-Bandung 165 kilometer, rata-rata kecepatan terbang Komar mencapai 70 kilometer per jam.

Toh, jarak Tegal-Bandung, kata Soedjad, belum seberapa. Merpati-merpati pos asal Bandung ini pernah diterbangkan dari Situbondo, Jawa Timur, dan sampai di tempat asal setelah 12 jam terbang. Lebih "gila" trayek yang bakal ditempuh pada kejuaraan nasional, September nanti. "Garis start-nya dari Lombok," kata pensiunan Departemen Keuangan itu.

Tak semua merpati mampu mengepakkan sayapnya selama dan sejauh itu. Kemampuan ini hanya monopoli merpati jenis pos, yakni burung yang punya trah "bule". Di Indonesia, kata Soedjad, merpati ini kebanyakan hasil kawin silang antara ras Yansson dan Delbar dari Belgia dan ras unggulan lainnya. Komar, misalnya, adalah keturunan hasil kawin silang ini.

Komar Cahyana memulai hobi ini pada awal 1980-an. Kini ia memiliki 100 merpati pos --semuanya masuk kelas unggulan. Tapi, hanya 50 ekor yang biasa diterbangkan. Sepuluh ekor masih dalam tahap belajar terbang. Sisanya yang 40 ekor (20 pasang) oleh Komar dibiarkan dalam kandang, dengan tugas bertelur, menghasilkan bibit unggulan lain.

Seekor merpati betina biasanya bertelur dua butir. Telur itu akan dierami bergantian oleh jantan dan betina selama 17 hari, sampai menetas. Anak burung biasanya sudah bisa terbang pada usia 40 hari, tentu dalam jarak dekat. Barulah pada usia tujuh bulan ia mendapat latihan serius. "Kami mulai melepasnya pada jarak puluhan kilometer," kata Komar.

Menginjak usia dua tahun, "Ia sudah sanggup terbang ratusan, bahkan seribu, kilometer lebih," kata Komar. Untuk memelihara semua merpatinya, Komar merogoh keceknya Rp 750 ribu sebulan. Uang itu untuk membeli pakan berupa jagung, kacang tanah, kacang hijau, dan jenis kacang lainnya. Masih ada makanan pelengkap lain, mulai vitamin hingga doping khusus burung.

"Semua vitamin itu mesti diimpor," kata Komar yang Cahyana. Pengeluaran sebesar ini tak terasa kalau ada bibit unggul yang terjual. Seekor anak turunan Komar yang burung, misalnya, bisa laku Rp 500 ribu. Harga ini bisa melambung hingga Rp 3 juta kalau si merpati telah benar-benar "jadi". Namun, harga jual merpati bertrah "bule" ini ternyata belum seberapa.

Hingga kini, rekor penjualan masih dipegang merpati jenis lokal, yakni "Tiger", milik Eeng, seharga Rp 200 juta. Pembelinya adalah penggemar "gila" merpati balap dari Probolinggo, Jawa Timur, Roy Akas namanya. "Tiger memang layak dihargakan segitu," kata Ache Sumantri, Ketua Perhimpunan Merpati Balap Seluruh Indonesia cabang Jawa Barat.

Di blantika merpati balap nasional, prestasi Tiger mememang mengkilap. Sejak dibeli Eeng seharga Rp 25 juta, pada 1998, Tiger mencetak hattrick, menjadi juara tingkat nasional tiga kali berturut-turut. Kepakan sayapnya berhasil menenggelamkan "legenda" sebelumnya, Koko, yang bertahun-tahun selalu merajai lomba.

Dibandingkan merpati pos, jumlah penggemar merpati balap jauh lebih banyak. Di Jawa Barat saja tercatat 70 anggota, belum termasuk penggemar non-organisasi. Ukuran burung balap sedikit lebih kecil dibandingkan merpati trah "bule". Tata cara lombanya pun berbeda. Kalau jarak lomba merpati pos ratusan kilometer dan finish-nya di kandang, merpati balap cukup dilepas di dalam kota, dengan garis akhir di pundak pasangannya.

Lomba ini memanfaatkan sifat merpati yang selalu setia kepada pasangan. Jenis balapan ini pun masih dibagi ke dalam dua katagori, yakni balapan datar dan balapan atas. Pada katagori pertama, gerakan pembalap adalah datar menyusuri permukaan tanah. Mereka akan secepat kilat mengerem gerakannya, dan langsung menclok di punggung betinanya.

Sedangkan pada balapan atas, setiap peserta lomba tidak sekadar adu cepat mencapai "sasaran". Setelah menempuh penerbangan tertentu, merpati harus mampu masuk area ngolong, yakni wilayah setinggi 12 meter di udara dengan luas 8x8 meter. Dari ketinggian itu, merpati akan menjatuhkan diri setelah betinanya di perlihatkan.

Saking cepatnya gerakan "terjun bebas" ini, terkadang ada merpati yang telat mengembangkan sayapnya. Akibatnya bisa fatal, merpati terhempas ke tanah. Tak sedikit di antaranya cedera, bahkan mati. Kesetiaan pun tak jarang mesti berkalang maut.

Hidayat Gunadi dan Sulhan Syafi'i (Bandung)
[Gatra Nomor 33 Beredar Senin 2 Juli 2001]


Sumber:
URL:
http://www.gatra.com/2001-07-06/versi_cetak.php?id=7637
 
Merpati Balap Jember Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template